LSI DENNY JA: ADA TIGA KING MAKER PILPRES 2024

LSI DENNY JA: ADA TIGA KING MAKER PILPRES 2024

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Okezone.com

Hasil survey LSI Denny JA menyatakan bahwa ada tiga King/Queen maker dalam Pilpres 2024 nanti. dalam survey yang dilakukan terhadap 1200 responden dengan metode wawancara tatap muka terhadap responden menggunakan kuesioner  dengan margin of error ± 2,9 %.  Menurut  peneliti senior LSI Adjie Alfaraby dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/06), ketiga tokoh king/queen maker itu adalah Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, dan Airlangga Hartarto.

Ketiga king/queen maker itu adalah para ketua umum partai politik dan mereka telah mengantongi 3/4 tiket untuk mengusung calon presiden, ujar Adjie.

Dengan adanya ambang batas 20 persen, maka untuk mengusung capres minimal harus memiliki 115 kursi di DPR RI.  Dan saat ini PDIP memiliki 128 kursi, Golkar 85 kursi, dan Gerindra 78 kursi di DPR RI. Melihat gal tersebut maka PDIP sudah melewati ambang batas 20 persen dan  memiliki tiket untuk mencalonkan calon presiden, sementara Golkar dan Gerindra saat ini baru mempunya 3/4 tiket untuk bisa mencalonkan calon presiden atau cawapres, ungkap Adjie.

Tanpa koalisi partai, PDIP sendirian bisa mencalonkan Capres/Cawapres 2024. Namun Megawati Soekarnoputri sudah menjadi Ibu Bangsa dan bukan eranya lagi menjadi Capres/Cawapres. Golkar hanya butuh tambahan 30 kursi lagi (1/4 tiket) untuk bisa mencalonkan Capres/Cawapres 2024, dan bisa berkoalisi dengan partai manapun yang memiliki kursi di DPR agar memenuhi syarat (kecuali PPP).

Kursi Gerindra di DPRI RI adalah 78 Kursi, baru mencapai 3/4 tiket, dan hanya butuh tambahan 37 kursi lagi (1/4 tiket) untuk bisa mencalonkan Capres/Cawapres 2024. Gerindra bisa berkoalisi dengan partai manapun yang memiliki kursi di DPR agar memenuhi syarat (kecuali PPP).

Megawati hanya sebagai King/Queen maker 2024, tak lagi menjadi King atau Queennya lagi (Capres/Cawapres), Prabowo disamping sebagai King/Queen maker 2024, juga potensial menjadi King (capres), tapi tak lagi berminat menjadi Cawapres, sedangkan Airlangga paling lengkap, disamping sebagai King/Queen Maker 2024, juga potensial menjadi King (Capres) atau wakil King (Cawapres).

Jika Puan Maharani sebagai capres 2024, elektabilitas Puan Maharani saat ini masih rendah (2 persen), padahal tingkat pengenalan sudah 61%, resiko capres PDIP dikalahkan, dan tak lagi mengontrol pemerintahan 2024-2029, jika Puan sebagai Capres.

Jika Puan Maharani sebagai cawapres dan Prabowo sebagai Capres, maka PDIP justru memberi panggung bagi Gerindra menjadi partai terbesar dalam pemilu serentak. Jika Puan Maharani sebagai cawapres, dan tokoh lain yang populer menjadi capres (Capres diminta pindah ke PDIP), belum tentu capres itu bersedia, apalagi jika ia memiliki komitmen dengan partai lain dan belum tentu elit PDIP menerima jika capres tersebut berlainan ideologi.

Jika Ganjar Pranowo sebagai capres, Ganjar lebih potensial, tingkat pengenalan dibawah Puan (Ganjar 59%, Puan 61%), namun elektabilitas Ganjar jauh diatas Puan (Ganjar 15.5%, Puan 2 %). Per hari ini (Juni 2021), Ganjar hanya kalah dibanding Prabowo, bersaing dengan Anies Baswedan.

Komplikasi Prabowo Subianto, elektabilitas Prabowo memang kini paling tinggi (23.5%), tapi sudah jauh merosot dibandingkan perolehan suara Prabowo 2019 : 44.5 %. Dukungan Prabowo sudah merosot diatas 20% (dari 44.5% di pilpres 2019,ke 23% di Juni 2021). Kuatnya resistensi Prabowo di segmen politik tertentu, yaotu kasus politik 1998 yang akan dimunculkan kembali, kelompok anti-Jokowi di pilpres 2019 yang merasa kini dikhianati Prabowo.

Kuatnya resistensi Prabowo karena faktor lainnya, aura kekalahan 3 kali berturut-turut di pilpres (Capres 2014, 2019, dan cawapres 2009). Kasus korupsi yang melanda Menteri Gerindra ketika berkuasa (Menteri KKP 2019-2020 Edhy Prabowo).

Sedangkan Airlangga Hartarto, tingkat pengenalan Airlangga di Juni 2021 masih di bawah 50 %. Tingkat elektabilitas Airlangga di Juni 2021 masih dibawah 10%. Pesona Airlangga akan semakin besar jika ia bisa dikenal mendekati 80%, ini juga akan mempengaruhi elektabilitasnya.

Airlangga Hartarto, hanya membutuhkan satu dukungan partai lagi yang punya kursi di DPR (kecuali PPP) untuk sah memiliki tiket, walau tingkat pengenalan rendah, sebagai cawapres tetap bisa terpilih jika dipasangkan dengan capres yang powerful (kasus cawapres Boediono tahun 2009).(Red)

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent