Pertemuan Jokowi – Prabowo: Deteksi dan Lokalisir Para Pemecah Belah Bangsa Oleh : Imam Fadholi

Pertemuan Jokowi – Prabowo: Deteksi dan Lokalisir Para Pemecah Belah Bangsa Oleh : Imam Fadholi

Pertemuan Jokowi dan Prabowo yang diawali dengan saling hormat, bersalaman, berangkulan, menebar senyum bahagia, tawa gembira, sekaligus melontarkan pernyataan-pernyataan damai menyejukkan yang penuh optimisme kepada khalayak ramai sudah sewajarnya dianggap sebagai anugerah yang luar biasa dari yang maha kuasa.
Aura bahagia dan optimisme yang ada dalam pertemuan itu telah menebar dan sangat mempengaruhi pikiran serta perasaan sebagian besar rakyat Indonesia yang menyaksikan. Berbagai pernyataan senang, bahagia, bahkan haru yang menitikkan air mata terlontar berhamburan memenuhi langit Indonesia.
Media mainstream nasional dan bahkan beberapa media internasional juga ikut menebarkan aura positif itu melalui berbagai narasi berita. Wabil khusus netizens di dunia maya sosial media, banyak sekali yang membahasnya dalam berbagai dimensi yang juga penuh dengan aura bahagia.
Respon dan ekspresi yang mengemuka itu serupa pesta kemenangan yang dirayakan secara bersama-sama oleh anak bangsa yang diliputi bahagia dan harapan. Kemenangan sebagai satu bangsa Indonesia dari segala macam upaya yang belakangan terus-menerus menggerus ketenteraman, kerukunan, dan kedamaian hidup bersama.
Pertemuan Jokowi – Prabowo kali ini tak cukup hanya diamati melalui kacamata politik. Ada pesan penting yang bisa dibaca terutama dari sudut pandang budaya. Sejak dulu, budaya bangsa ini cukup lekat dengan penggunaan simbol dalam berkomunikasi. Jokowi pun tak jarang melakukannya. Dan dalam pertemuan itu, stasiun, gerbong kereta, dan kereta yang melaju ditangkap sebagai simbol yang sarat makna yang sengaja digunakan agar mudah dipahami bersama oleh rakyat Indonesia.
Upaya itu terbukti berhasil. Masyarakat menangkap pesan simbol tersebut dengan narasi yang nyaris sama, yaitu pertemun dua kubu besar di satu gerbong dalam sebuah rangkaian kereta besar bernama Indonesia. Kereta Indonesia itu melaju menuju masa depannya. Karena itu kemudian tagar #03PersatuanIndonesia dan yang semakna lainnya bermunculan serta dengan cepat viral dan menguasai trending di jagad maya. Apa yang terjadi setelah sebagian besar masyarakat memaknai pesan simbol itu sebagai sebuah persatuan Indonesia yang tak lain adalah sila ketiga Pancasila?
Bersamaan dengan itu semua, ada beberapa kelompok masyarakat yang ternyata masih memandang sinis dan secara terang-terangan menentang sekaligus mengecam pertemuan tersebut. Alih-alih menyatakan persatuan Indonesia, kelompok itu justru menyebut Prabowo yang sebelumnya disanjung dipuja-puji sebagai pengkhianat dan sebutan-sebutan buruk lainnya.
Dari sini saya melihat ada strategi komunikasi yang sengaja dirancang sebelumnya dengan menggunakan simbol-simbol yang melekat dalam pertemuan Jokowi-Prabowo untuk kepentingan mendeteksi sekaligus melokalisir siapa-siapa yang tak menginginkan pertemuan kedua tokoh tersebut.
Penggunaan simbol yang berhasil dipahami masyarakat dengan dimaknai sebagai bersatunya dua kekuatan besar di satu gerbong dalam rangkaian kereta Indonesia yang tengah melaju itu pun berhasil memilah antara siapa yang menerima, mendukung, dan turut bahagia serta menaruh harapan dengan yang menentang dan yang memandang sinis pertemuan tersebut. Para penghalang proses rekonsiliasi itu juga dinilai sebagai pihak yang tak menginginkan perseteruan akibat Pilpres berakhir. Mereka ingin Indonesia terus terbelah.
Ini terbukti dalam berbagai pernyataan masyarakat. Netizens, dalam ragam postingannya menarasikan golongan tersebut sebagai penumpang gelap yang menyelinap masuk ke dalam rangkaian kereta besar bernama Indonesia. Mereka juga dideteksi sebagai pembuat onar yang selama ini terus melakukan upaya perpecahan terutama saat kampanye Pilpres berlangsung.
Kita tahu sejak selesai pencoblosan di 17 April lalu, wacana rekonsiliasi sudah mengemuka. Berbagai upaya untuk merealisasikannya pun dilakukan berbagai pihak. Tapi secara bersamaan ada pula gerakan-gerakan yang menghalangi. Hal itu terus terjadi dan makin terlihat jelas setelah MK menolak semua gugatan kubu Prabowo-Sandi.
Salah seorang tokoh yang terang-terangan menyerukan penolakan adalah Abdullah Hehamahua. Mantan penasehat KPK itu lantang mengatakan sekaligus mengancam Prabowo dengan menyebut sebagai pelacur jika bersedia bertemu dan mengakui kemenangan Jokowi. Selain Abdullah, masih banyak tokoh lainnya menyeru hal yang sama, diikuti seruan serentak para pengikut dan simpatisannya di bawah.
Setelah kabar pertemuan Jokowi – Prabowo menyebar, para penghalang rekonsiliasi yang kemudian disebut sebagai penumpang gelap itu semakin jelas wujudnya. Secata otomatis mereka terdeteksi dan terlokalisir, terpisah dari pendukung Prabowo yang sebenarnya yang benar-benar menginginkan Indonesia maju, adil dan makmur ke depannya sebagaimana disemboyankan bersama pendukung Jokowi usai pertemuan di MRT itu.
Mereka yang terdeteksi dan terlokalisir sebagai penumpang gelap yang tak ingin persatuan Indonesia itu di antaranya adalah yang tergabung dalam Persatuan Alumni 212 (PA212), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama), dan Front Pembela Islam (FPI).
Fakta tersebut jelas terungkap dalam berbagai pernyataan masing-masing petinggi kelompoknya di berbagai media. Dengan ini pula, pihak-pihak terkait akan lebih mudah mengatasi gerakan mereka. Kitapun sebagai rakyat biasa yang menginginkan persatuan Indonesia benar-benar bisa lebih terang benderang melihat siapa kawan yang sebenarnya dan siapa lawan yang sesungguhnya.
*) Pemerhati Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent