AKTIVITAS RADIKALISME DI MEDSOS CUKUP TINGGI DISAAT PANDEMI

AKTIVITAS RADIKALISME DI MEDSOS CUKUP TINGGI DISAAT PANDEMI

Foto: Tangkapan layar acara webinar yang di fasilitatori oleh Alkater Merah Putih

Sepanjang tahun 2020 ancaman teror akan tetap ada, dan dalam situasi pandemi seperti ini dimanfaatkan oleh para pelaku teror. Penegakan hukum yang sudah dilakukan tindak pidana terorisme periode 2020 ini sampai Oktober berjumlah 165 orang, terdiri dari JI 25 orang, JAD ada 105 orang, MIT ada 20 orang, dan dari media sosial yang melakukan provokasi yang sudah ditindak sekitar 15 orang, ujar Stafsus KSP Eddy Soepadmo dalam webinar tentang ancaman ekstrimisme dan intoleransi akhir tahun yang difasilitatori oleh Alkater Merah Putih beberapa waktu lalu.

Aktivitas radikalisme, terorisme di media sosial cukup tinggi ketika adanya PSBB. 4 platform media sosial yang popular oleh jaringan teror adalah telegram, wharsapp, facebook dan instagram. Sampai Oktober ada 220 grup yang beranggotakan 11 ribuan orang, da nada akun yang aktif sekitar 200. Di whatsapp tercatat ada 80 an grup yang beranggotakan 600 an dan akun aktifnya sekarang tinggal 80 orang. Konsolidasinya tetap berjalan, sel-sel JAD juga terus, aktivitas sejumlah daerah belum mengindikasikan adanya rencana yang mengarah pada aksi, terang stafsus KSP tersebut.

Kalau semangat politik identitas didaerah itu luar biasa, kita menengarai beberapa kajian, melihat kemungkinannya kalau mereka berkembang, terus kemudian tidak ada kontrol sama sekali, atau tidak ada perlawanan sama sekali, nanti politik di daerah akan muncul menjadi politik identitas, jelas Eddy Soepadmo.

Dalam webinar tersebut Sekjen Gerakan Jaga Indonesia Boedi Djarot menyampaikan bahwa Rizieq Shihab itu punya sel tidur, dimana dia punya jaringan internasional yang sangat kuat, gerakannya adalah trans national Islamic yang itu ada hubungannya dengan isis, Kalau faktor psikologis yang kedua membangkitkan perlawanan, kemudian sel tidur ini bangun, apakah tidak terjadi bentrok  horizontal? Pasti terjadi bentrok dan ini mungkin tidak diperhitungkan. Ada gambar baliho yang sama pakai silang di Jawa Timur, di Yogyakarta, di Solo, di Bandung, artinya ada orang atau kelompok menjadikan ini kesempatan perlawanan kepada Rizieq Shihab supaya membangunkan sel tidurnya Rizieq, itu harus kita sadari dan itu berbahaya sekali.

Sedangkan Deklarator Barikade 98 Hengki Irawan mengatakan bahwa sifat ekstrimisme itu adalah sebuah sikap, perilaku, dan juga emosi yang merugikan. Ekstrimisme agama yang adalam hal ini yang menguat di Indonesia memang bukan ruang hampa.Hidup dalam era globalisme ini kita sebenarnya hidup dalam persaingan, hidup dalam persaingan maka orang ingin selalu menonjol, ingin selalu eksistensinya itu muncul. Disinilah sikap ekstrim ini akhirnya termanifestasi dalam sikap dia ekslusifisme minimal, minimal dia eksklusif, enggan bersahabat, bahkan cenderung mempropagandakan kebencian  kepada yang lain.

Saya menuntut, meminta pertanggungjawaban Pangab Jenderal Wiranto, dan juga Pangdam Jaya waktu itu Jaja Suparman sebagai operator lapangan, Kivlan Zein dan juga Nugroho Djayusman sebagai Kapolda. Mereka sesungguhnya orang-orang yang melahirkan itu, ketika mereka meminta ijin kepada publik untuk membentuk rakyat terlatih dan ditolak oleh MPR/DPR pada waktu itu. Kemudian diterima pembentukan pam swakarsa dan karma, nah dia mendompleng perijinan dari pihak legislatif kita. Dia membentuk pam swakarsa, yang sifatnya politik identitas, keagamaan dan persukuan. Habib Ali, Rizieq Shihab membentuk FPI, lalu Jafar Umar Thalib membentuk laskar jihad , lalu di Jakarta dibentuk Forkabi, FBR, ungkap Hengki.(Red)

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent