SUDAH KRISIS SAATNYA MEMBAKAR, MENYAN?

SUDAH KRISIS SAATNYA MEMBAKAR, MENYAN?
Foto: Tulisan provokasi, sumber foto: Suara.com

 

Oleh: Andre Vincent Wenas *)

Ada anak-anak muda, entah disponsori oleh siapa, yang dengan cat semprot menorehkan tulisan “Sudah Krisis Saatnya Membakar” di beberapa lokasi. Di torehkan dekat toko atau ruko, dan ada juga yang di tiang listrik.

Mungkin maksudnya mau memprovokasi massa supaya terjadi chaos lewat kerusuhan. Tapi keburu terciduk dan yang beredar luas malah foto para provokatornya yang sangat memelas. Duh! …ada-ada saja.

Kita sendiri agak bingung dengan logika tulisan itu. Apa sih hubungan logis dari premis “Sudah Krisis” dengan kesimpulannya “Saatnya Membakar”? Kacau memang.

Biasanya sih secara tradisional, kalo krisis itu saatnya bakar menyan, lalu berdoa. Mohon petunjuk kepada penguasa jagad raya, sekalian mohon ampun.

Dari obrolan di gadget, lantaran saat ini gak boleh kumpul di warung kopi, disinyalir ada kelompok-kelompok yang memang mau memanfaatkan situasi krisis akibat wabah Corona ini. Mau bikin kacau.

By the way, memang krisis adalah situasi yang jadi syarat untuk suatu perubahan. Buku-buku teks change-management senantiasa mengajarkan, syarat perubahan mestilah didahului krisis.

Entah krisis yang alami, atau yang sengaja direkayasa. Situasi krisis mengondisikan orang untuk siap menerima perubahan.

Sebetulnya krisis yang diakibatkan Covid19 malah bisa mempercepat proses perubahan yang sedang dilakukan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak periode kepemimpinannya yang pertama (2014-2019). Dan dilanjutkan sekarang di periode kedua (2019-2024).

Apakah ada perubahan-perubahan mendasar yang sedang diupayakan administrasi Presiden Joko Widodo selama ini?

Coba saja kita tilik beberapa fenomena sebagai contoh saja, di samping upaya-upaya lain yang sedang dijalankan.

Soal pengejaran harta koruptor yang dilarikan dan disembunyikan di Swiss atau negara-negara surga pajak (Cayman Islands, Virgin Islands, termasuk Hong Kong, Singapura dan Australia). Ini tentu mengganggu kenyamanan tidur para tikus-tikus itu.

Lalu soal Petral, ini sarang korupsi kelas kakap, atau kelas buaya deh biar lebih serem. Tujuannya supaya duit trilyunan yang bocor saban minggu atau bulan itu bisa diredistribusi ke program-program keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini sangat mendasar, lantaran praktek bancakan via Petral ini sudah berjalan begitu lama. Dan para buayanya sudah tahu sama tahu, tempe sama tempe, saling tutup saling proteksi. Jaringan mafia migas ini sangat buas.

Begitu praktek bancaan berjamaah ini disunat, marahlah para buaya rakus itu. Baru pada pemerintahan Presiden Joko Widodo Petral akhirnya tamat. Sebelum-sebelumnya sih selamat.

Lalu ada soal Freeport. Mayoritas kepemilikannya (51 persen) beralih ke Indonesia. Sebelumnya masih ‘atur-able’ (bisa diatur) yang penting para buaya happy.

Ada lagi soal yang lebih ideologis. Demi konsistenis terhadap ideologi Pancasila, maka ormas radikal macam HTI dibubarkan. Padahal selama ini dipelihara oleh rezim yang lalu-lalu demi kepentingan politik sempitnya. Maka marahlah para manipulator agama ini.

Intinya, mereka-mereka yang kena babat oleh silet Jokowi ini adalah para penjarah berdasi dan manipulator (agama maupun politik). Silet itu begitu tajamnya, kerap tidak terasa waktu terpotong. Baru setelah beberapa saat mereka menjerit tertahan, lantaran gak berani keras-keras. Sandiwara masih dimainkan sementara ini.

Merekalah yang saat ini sedang blingsatan dan bernafsu sekali untuk ‘menggulingkan’ pemerintahan Presiden Joko Widodo. Mereka kembali merancang semacam ‘operasi semut-merah’ yang dulu juga pernah mereka lakukan dan berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Aburrachman Wahid.

Gus Dur yang legendaris itu memang luar biasa. Walau singkat masa pemerintahannya, beberapa fondasi penting untuk hidup berbangsa dan bernegara berhasil beliau tancapkan. Lalu sayangna beliau secara inkonstitusional dilengserkan.

Konspirasi jahat dari para buaya ini memang tidak kenal malu. Bagaimana pun kondisi bangsa saat ini, ambisi mereka tetap harus dijalankan. Kalau toh perlu mengorbankan anak-anak muda dan rakyat kecil, maka biarlah itu terjadi.

Tapi memang Presiden Joko Widodo ini lain dari para pendahulunya. Ia kapten kapal yang sangat tenang dan cermat dalam pengambilan keputusan. Soal ini sudah banyak rekan yang mengulasnya. Kita hanya bersyukur saja, sampai saat ini semuanya masih sangat terkendali.

Justru yang kelabakan adalah para perancang dan pelaksana ‘operasi semut-merah jilid dua’ ini. Selalu kalah strategi.

Tatkala provokator lapangannya terciduk, maka provokasinya mati angin. Malah yang beredar luas itu foto mereka yang memelas.

Mungkin saja ini ‘Sudah Krisis’ bagi para buaya. Kelamaan keran duit haramnya disetop. Maka kita sarankan buat mereka ‘Saatnya Membakar’ Menyan, lalu berdoa mohon ampun dan bertobat.

*) Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

Sumber: Kompasiana

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent