MENGUATNYA ISLAMOPHOBIA DAN RADIKALISME DI AUSTRALIA Oleh : Toni Ervianto

MENGUATNYA ISLAMOPHOBIA DAN RADIKALISME DI AUSTRALIA Oleh : Toni Ervianto
Australia's Prime Minister Scott Morrison (C on the stage) waves to his supporters following a victory speech with his family after winning the Australia's general election in Sydney on May 18, 2019. - Australia's ruling conservative coalition appeared to secure a shock election win on May 18, with the party predicted to have defied expectations and retained power. (Photo by Saeed KHAN / AFP) (Photo credit should read SAEED KHAN/AFP/Getty Images)

Jakarta-JI. Indikasi Islamophobia nampaknya semakin menguat di Australia, dan pemerintahan Perdana Menteri Scott Morrison tampaknya kurang “firmly” dalam mengatasi masalah ini, sehingga serangan-serangan brutal terhadap komunitas Muslim di Australia diperkirakan akan semakin meningkat di kemudian hari. Menguatnya Islamophobia di Indonesia jelas merupakan ekses masih kuatnya radikalisme dan terorisme di ranah global yang sejauh ini sudah diperangi oleh Amerika Serikat dan koalisinya termasuk Australia, namun belum memberikan gambaran keberhasilan yang membanggakan, walaupun kekhalifahan ISIS di Suriah dan Irak sudah mengalami kehancuran, namun sejatinya ISIS belum dikalahkan.
Jika kelompok neo-Nazi dan pendukung ideologi supremasi kulit putih berpikiran bahwa semua umat Islam adalah teroris, adalah sebuah kesalahan besar dan tidak aka nada dialog agama dan budaya jika mind-set mereka masih salah dalam memahami Islam.
Indikasi menguatnya Islamophobia di Australia setelah penembakan terhadap jamaah sholat di Christchurch beberapa waktu yang lalu, belum lama ini Masjid Holland Park di Brisbane dicoret dengan grafiti simbol swastika dan tulisan yang merujuk ke teroris Christchurch, seperti “Remove kebab” dan “ST Tarrant”. Presiden Masjid Holland Park, Ali Kadri, mengatakan ada lebih banyak yang harus dilakukan dalam perang melawan neo-Nazi dan ideologi supremasi kulit putih
Anggota Parlemen Australia dari Partai Buruh, Terri Butler – yang mewakili pemilih di wilayah Griffith, Brisbane – dan juru bicara oposisi Australia urusan multicultural, Andrew Giles, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam grafiti itu.
“Vandalisme yang penuh kebencian dan memecah belah di masjid Holland Park pagi ini adalah sikap fanatik, menjijikkan dan tak bisa diterima. Partai Buruh berdiri bersama komunitas Islam melawan perilaku keji seperti itu,” kata mereka.
Tahun 2017, salah seorang mahasiswi Holmesglen Insititute di Melbourne bernama Tayeba Quddus terkejut ketika melihat materi kuliah soal keberagaman yang menyebutkan ada hingga 300 juta Muslim yang termasuk “radikal yang ingin merusak dan membunuh”. Ia mengaku para mahasiswa diizinkan berbagi pemikiran mereka yang justru klise dan palsu tentang Muslim. Ia pernah mengadukan hal ini kepada dosennya, yang kemudian menerimanya, tapi tetap memuatnya sebagai materi kuliah online. Tidak puas dengan sikap dosennya, ia mengadukan masalah ini ke ‘Victorian Equal Opportunity’ dan ‘Human Rights Commission’ (walaupun sejauh ini belum ada kejelasan terkait penyelesaian masalah ini).
Slide yang ditampilkan sebagai bahan kuliah berjudul “Most Muslim Is Peace”, sebuah tautan YouTube membawa para mahasiswa ke sebuah video yang diterbitkan tahun 2017, dan menampilkan aktivis anti-Islam terkemuka Brigitte Gabriel. Brigitte adalah pendiri ACT For America, sebuah organisasi yang oleh banyak kritikus, seperti Southern Poverty Law Centre, sebagai kelompok yang menyebarkan kebencian dan organisasi anti-Muslim terbesar AS. Dalam video yang tersebar secara online, Brigitte mengklaim bahwa badan intelijen di seluruh dunia memperkirakan Muslim “radikal” berjumlah antara 15 hingga 25 persen. “Tapi ketika Anda melihat angka 15 hingga 25 persen dari populasi Muslim dunia, artinya ada 180 juta hingga 300 juta orang yang hendak menghancurkan peradaban barat.”.
Masih pada tahun yang sama, kelompok kulit putih Australia yang menyebut diri sebagai “Hitler yang Anda tunggu-tunggu” memasang stiker di papan nama universitas di negara bagian Tasmania sebagai kampanye nasional untuk menyampaikan pesan mereka. Poster yang menampilkan swastika, gambar Adolf Hitler dan ejekan homofobia ditempel di papan nama kampus Universitas Tasmania (UTAS) di Hobart mengikuti kegiatan “prank” serupa di kota-kota lain. Mereka juga memuat poster-poster tersebut dalam situs webnya yaitu Antipodean Resistance.

Kemungkinan jadi target teroris

Jika pemerintah Australia kurang serius menangani serangan graffiti di Masjid Holland di Brisbane dan meningkatkan keamanan beragama terutama bagi komunitas Muslim di Australia, maka tidak mengherankan jika dapat diprediksi Australia akan menjadi sarang serangan teror berikutnya.
Apalagi sikap Australia yang mengikuti langkah dari banyak negara di Uni Eropa yang menolak kepulangan kembali foreign fighters atau mantan kombatan ISIS yang berwarganegara asing, termasuk Suriah. Sebab, mantan Menlu Australia, Julie Bishop sendiri pernah menyatakan, setidaknya ada 40 perempuan asal Australia telah bergabung dalam aksi terorisme atau kelompok pendukung teroris. Sejauh ini, pemerintah Australia telah membekukan 100 paspor milik anggota milisi di Suriah dan Irak.
Fakta terakhir adalah Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menolak membantu anak-anak keturunan mendiang militan ISIS dari Australia, Khaled Sharrouf, menyusul permohonan pihak keluarga kepada Canberra untuk memulangkan mereka. Penolakan itu mungkin berkaitan dengan keputusan Australia yang telah mencabut kewarganegaraan Sharrouf akibat partisipasinya menjadi kombatan ISIS. Perdana menteri mengatakan, mereka kini bukan tanggung jawab Australia.
Namun, Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton yang lembaganya membawahi berbagai badan penegak hukum dan intelijen domestik mempunyai pendapat lain mengenai nasib anak-anak itu.
Dutton sebelumnya telah mengatakan, meski “kekuatan penuh hukum” akan digunakan terhadap eks-kombatan ISIS dewasa yang kembali ke Australia, namun, anak-anak mereka akan diperlakukan secara berbeda.
Perbuatan corat coret graffiti di Masjid Holland di Brisbane, sebelumnya ada materi kuliah yang “menistakan” Islam di Holmesglen Insititute di Melbourne, termasuk penempelan poster neo-Nazi di Universitas Tasmania (UTAS) di Hobart jelas menunjukkan benih-benih radikalisme semakin menguat di Australia, namun kesalahannya selama ini yang dituding pelakunya adalah Muslim atau komunitas Muslim menjadi sasaran radikalisme.
Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal yaitu intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain); fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah); eksklusif dan revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan) .
Jika “cycle of radicalism” ini gagal ditumpas di Australia, maka siklus kekerasan bahkan ancaman teror ke Australia akan semakin membesar, karena kelompok-kelompok anak-anak foreign fighters yang dilarang pulang akan menjadi “stateless generation” dan menjadi pendendam, karena mereka mengalami kekerasan fisik dan psikologi. Menurut Johan Galtung (1992) kekerasan dibagi dalam kekerasan fisik dan kekerasan psikologis. Pada kekerasan fisik, yang dilukai adalah fisik atau jasmani seseorang misalnya ditampar, dipukul, dilukai, ditendang bahkan sampai dibunuh. Kekerasan psikologi, yang dilukai adalah jiwa atau batin seseorang misalnya dihina, diancam, difitnah, atau diteror. Kekerasan psikologis menyebabkan kemampuan mental seseorang berada di bawah kemampuan aktualnya.
*) Penulis adalah pemerhati masalah internasional. Alumnus pasca sarjana UI.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent