GONJANG GANJING EKONOMI GLOBAL DAN INDONESIA

GONJANG GANJING EKONOMI GLOBAL DAN INDONESIA

Daya saing ekonomi Indonesia di era industri 4.0 masih jauh dari harapan dan patut digelisahkan sebab mengacu ke data Badan Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI Kemenperin), dari banyaknya perusahaan di Indonesia, yang menurut World Economic Forum masuk kategori skala industri 4.0 atau light house internasional sebanyak dua perusahaan yaitu PT Schneider Electronic Manufacturing Batam (SEMB) dan PT Petrosea Tbk.
Sementara itu, cengkraman asing dalam Perbankan nasional semakin kuat. Seperti diberitakan Harian Kontan, bahwa lembaga keuangan asal Jepang yaitu Mizuho Financial Group dan Sumitomo Mitsui Finansial Group berminat mengakuisisi Bank Permata. Hasil uji tuntas atau due dilligence Bank Permata diumumkan akhir Agustus 2019. Sumitomo membidik 44,56% saham Permata yang masing-masing dimiliki PT Astra International Tbk (ASII) dan Standard Chartered Bank. Sementara, Mizuho hanya mengambil saham Standard Chartered. MUFG Mitsubishi UFJ Finansial Group (MUFG) melalui entitas anaknya MUFG Bank Ltd memiiki 94,10% saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) sedangkan Mizuho Financial Group Inc melalui Mizuho Bank Ltd memilki 99% saham PT Bank Mizuho Indonesia. JTrust Co Ltd memiliki 96,175% saham PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC).
Sumitomo Mitsui Financial Group melalui Sumitomo Mitsui Banking Corporation memiliki Bank BTPN hingga 97,3496. Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) melalui Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) memliiki 97,34% saham PT Bank BTPN Tbk (BUN). J Trust Co. Ltd memiliki 96,17% saham Bank J Trust Indonesia. Maraknya investor asing tidak lepas dari rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melonggarkan aturan kepemilikan bank alias single presence policy (SPP). Revisi SPP memungkinkan pemegang saham pengendali memiliki lebih dari 1 bank dalam grup. .
Sementara itu, pemerhati Indonesia, TW Deora menilai kondisi diatas sebagai alarm merah karena Perbankan kita pelan pelan tapi pasti dikuasai asing akibat lemahnya regulasi yang dibuat otoritas berwenang.
Sementara, currency war sudah terjadi antara AS vs Tiongkok. People Bank of China (PBOC) dituding AS sebagai manipulator mata uang oleh Amerika. Pemerintah China menyebut tudingan tersebut berpotensi merusak kestabilan ke-uangan internasional sekali-gus pasar keuangan global. Tudingan memanipulasi mata uang terjadi setelah PBOC pada 5/8/2019 menetapkan nilai tukar yuan menembus level psikologis di bawah 6,9 untuk kali pertama dalam satu dekade terakhir.
Kondisi ini memicu gelombang aksi jual yang terjadi di seluruh pasar global, mulai dari Asia hingga Amerika. PBOC menyatakan pihaknya memiliki pangalaman memanipulasi mata uang dan akan berupaya terus melakukannya.
Langkah Amerika memberi label manipulator mata uang terhadap China dilakukan tiga minggu setelah International Monetery Fund (IMF) menyatakan bahwa pertumbuhan yuan sejalan dengan funda-mental ekonomi China. Sementara nilai dollar AS terlalu tinggi 696 hingga 12% dari fundamentalnya.
Amerika menetapkan tiga kriteria untuk mengidentifikasi tedadinya manipulasi mata uang yaitu terkait neraca berjalan global, neraca berjalan Amerika, dan adanya intervensi secara terus menerus kepada satu mata uang.
Pemerhati masalah internasional, Toni Sudibyo menilai fakta diatas adalah munculnya bahaya currency war yang diprediksi semakin ganas sebagai kelanjutan trade war, bahkan situasi bisa memburuk jika terjadi cyber attacks dan cyber war, dan jelas dampaknya bahwa neraca dagang Indonesia akan semakin parah defisitnya.
Bagaimanapun juga, aksi China yang sengaja melemahkan yuan memicu perang kurs di pasar keuangan global. Indonesia diperkirakan tidak lepas dari imbas negatifnya. Ada dua efek negatif dari perang kurs tersebut. Pertama, dari sisi perusahaan. Ketika China mendevaluasi yuan, sudah pasti barang mereka terlihat lebih murah daripada produk negara lain. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekspor China, sehingga produk dari Indonesia yang berorientasi ekspor akan mendapat tekanan dari produk China. Kedua, efek secara makro. Jika produk ekspor Indonesia kalah bersaing dengan China, kemungkinan Indonesia akan mengalami penurunan ekspor. Hal ini akan membuat neraca dagang terganggu.
Tapi devaluasi kurs yuan juga bisa memberi sentimen positif, yakni potensi capital in low, karena nilai mata uang Yuan yang turun dapat membuat investor keluar dari China dan berpotensi masuk ke Indonesia. Pada level mikro, sejumlah emiten bisa memperoleh untung dari devaluasi yuan yaitu mereka yang banyak mengimpor produk dari China. Sementara, mata uang yang sering dijadikan aset safe haven seperti yen Jepang dan Franc Swiss akan menarik dibeli ketika perang mata uang.
Pemilik dollar Kanada sebaiknya segera dijual sebab ketika perang kurs terjadi, palaku pasar cenderung menghindari aset berisiko seperti dollar Kanada. Apalagi, harga minyak cenderung turun memberi sentimen negatif pada dollar Kanada.
Jika Presiden AS Donald Trump benar-benar menerapkan tarif impor dan China melawan dengan menaikkan tarif impor, maka perang kurs bisa berhenti (Red/dari berbagai sumber)

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent