Awas Bahaya Radikal di Depan Mata! Oleh : Jaya Surbakti

Awas Bahaya Radikal di Depan Mata! Oleh : Jaya Surbakti

Satu tahap lagi sudah kita lewati dengan baik, sebagai bangsa dan negara, yaitu Pemilu 2019, baik Pilpres maupun Pileg. Kita semakin teruji dalam sistem negara yang demokratis. Kita wajib bersyukur kepada Tuhan YME, karena telah menitipkan bangsa dan negara yang indah ini sekaligus meridhoi sistem demokrasi berjalan didalamnya.
Setelah ini, masih tetap kita harus berjuang, menjaga negara agar tetap berjalan dengan aman dan damai. Memang itu menjadi tugas utama TNI – Polri. Namun, sebagai warga negara yang baik, kita juga punya hak dan kewajiban yang sama untuk menjaga kedaulatan tanah air ini. Dari apa?
Yang paling dekat adalah dari bahaya radikalisme yang hendak merongrong Pancasila dan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini bukan isu semata, perhatikan begitu nyatanya wacana dari beberapa kelompok untuk menggantikan posisi Pancasila dan NKRI di negeri ini dengan sistem yang sama-sama kita tahu buktinya sudah menghancurkan banyak negara di luar sana. Keinginan mereka benar-benar diluar nalar kita. Jelas sekali sistem yang mereka ingin paksakan itu, sudah menjadi takdir buruk buat kehancuran banyak negara yang tadinya damai dan kaya. Entahlah, apakah memang Tuhan sengaja menjadikan kebebalan mereka sebagai ujian buat negara kita?
Mereka, dengan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi selalu mencari pengikut dan pendukung baru untuk sama-sama bahu-membahu menggoyang Pancasila dan NKRI dari kedudukannya. Banyak cara yang mereka lakukan, banyak dalil mereka kaitkan, dan banyak jiwa yang tertipu doktrin mereka. Jangan kita lengah, banyak sekali aspek kehidupan kita yang sudah disusupi oleh kelompok ini, mulai dari dunia pendidikan, dunia usaha maupun sistem pemerintahan kita.
Kekhawatiran tersebut tidak berlebihan. Perhatikan data Kementerian Dalam Negeri yang mengutip hasil survei Lembaga Alvara Strategi Indonesia pada Oktober 2017 yang menyatakan 19,4% PNS mulai berniat mengganti Pancasila dengan ideologi yang bukan Pancasila. Itu data tahun 2017. Entah sekarang.
Bahkan survei tersebut juga menyebut ada masjid BUMN yang terpapar paham ini. Ini kita sebagai anak bangsa tidak bisa tutup mata. Jangan sampai mereka berlaku seperti peristiwa Kuda Troya di jaman perang Yunani dulu.
Pengepungan yang sangat lama oleh Yunani atas kota Troya, namun tidak membuahkan hasil, maka Yunani membangun patung kuda yang besar dari kayu, dimana didalamnya sudah bersembunyi beberapa prajurit Yunani. Lalu mereka pergi ke pantai, sebagai orang kalah, sehingga seolah-olah kuda itu adalah persembahan kepada kota Troya atas ketangguhannya. Namun saat patung kuda dibawa ke dalam kota Troya, malam harinya prajurit yang bersembunyi di dalam patung, membukakan pintu gerbang kota, dari dalam, untuk semua prajurit Yunani yang kembali. Maka jadilah kota Troya menjadi kota yang dihancurkan.
Sekarang ini, bagi saya pribadi, urusan Pilpres sudah selesai, urusan perbedaan cara pandang pendukung sudah selesai. Perselisihan, caci-maki, teror dan sakit hati, cukup sampai disini. Anggaplah itu semua masa lalu, satu bentuk kedewasaan atau ketidakdewasaaan kita dalam berdemokrasi.
Siapapun dukungan Anda pada Pilpres lalu, jika benar Anda adalah sebenar-benar pendukung, bukan membonceng niat lain dalam mendukung, maka saya yakin Anda pasti mencintai NKRI dan ingin ikut menjaganya sampai kapan pun juga. Hal ini terwujud jelas dari sikap dua tokoh yang didukung selama Pilpres, Jokowi dan Prabowo, mereka sudah mengalahkan banyak ego pribadi, semata demi utuhnya negara dan bangsa ini, menyudahi carut-marut sengketa selama ini. Pertemuan yang mereka lakukan, diatas tekanan-tekanan yang terjadi, tidak akan mudah dilakukan kalau mereka tidak mengesampingkan ego mereka terlebih dahulu.
Dan, begitu mereka bertemu, logika orang waras, maka urusan Pilpres pun selesai. Namun bila masih ada yang berteriak-teriak kecurangan sampai hari ini, masih memprovokasi pertentangan sampai saat ini, awas, kita harus waspada, apa sebenarnya tujuan mereka tempo hari mendukung salah satu dari Paslon tersebut?
Waspadai orang-orang atau pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang masih selalu berusaha memancing kericuhan setelah usainya Pilpres ini. Sudah bukan alasan lagi untuk saling bertentangan mengenai Pilpres, karena wacana membangun bersama pun sudah digaungkan oleh kedua belah pihak, baik sebagai koalisi ataupun sebaliknya sebagai oposisi. Namun semua mengakui, koalisi dan oposisi adalah hal yang sama baiknya untuk kemajuan negara.
*) Pemerhati politik.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent