Tantangan Jokowi-Ma’ruf Amin Mengatasi Ancaman Krisis Air Bersih

Tantangan Jokowi-Ma’ruf Amin Mengatasi Ancaman Krisis Air Bersih

Oleh : Pramitha Prameswari

Krisis air bersih semakin menjadi ancaman serius di sejumlah daerah, terutama saat musim kemarau saat ini. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin perlu memiliki solusi cerdas untuk mengatasinya.
Tingkat ketersentuhan masyarakat Pesisir Selatan, Sumatera Barat akan layanan PDAM sekitar 40-45 persen atau baru 23.800 rumah tangga di 13 kecamatan, sementara kecamatan yang kurang air bersih adalah Lunang dan Silaut. PDAM terus berupaya untuk meningkatkan jangkauan layanan dengan menambah sumber air baru di beberapa titik pada tahun 2019 yaitu di Koto Gunuang Kecamatan Batangkapas dan Koto Pulai Kecamatan Lengayang. Sementara itu, di Kota Sawahlunto, potensi krisis air bersih di Kota Sawahlunto dapat disebabkan karena penurunan debit air di Sungai Batang Lunto, Kecamatan Lembah Segar saat musim kemarau atau kerusakan pompa air di PDAM unit Talawi dan pompa air di kawasan Kandi akibat beroperasi melebihi batas. Sedangkan, di Kabupaten Sijunjung, masih di Sumatera Barat, beberapa daerah yaitu daerah IV Nagari, Pelangki kemungkinan krisis air bersih bisa terjadi apabila terjadi aktivitas illegal logging di wilayah Jorong Kabun terus berlangsung.
Di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, krisis pernah terjadi pada September 2018 di Kecamatan Lubuk Pakam disebabkan terhentinya distribusi dari PDAM Tirta Deli. Solusi krisis antara lain dengan distribusi air dari mobil tangki. Sedangkan, di Samosir, kesulitan air bersih di Kecamatan Ronggur Nihuta, Nainggolan, dan Simanindo. Sementara, di Langkat, kerawanan krisis antara lain di daerah yang tercemar limbah pabrik kelapa sawit seperti Desa Pekan Kuala, Perlis, dan Kelantan. Hal ini dipengaruhi belum memadainya instalasi pengolahan air bersih masyarakat. Di Toba Samosir, daerah terindikasi krisis air bersih antara lain di Kecamatan Sigumpar dan Silaen, mencakup sekitar 23% penduduk karena letak di pegunungan.
Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat adalah salah satu wilayah yang hingga saat ini masih bermasalah dan kesulitan untuk mendapatkan air bersih, sehingga selama ini masyarakat setempat untuk mendapatkan air bersih masih mengandalkan dari air hujan, sehingga kalau musim kering tiba, mereka mengambil air menyeberang ke Kampung Mandoni dengan menggunakan longboat.
Di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, keberadaan dam-dam air di wiliayah aliran sungai, yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat untuk penggunaan kebutuhan air bersih masyarakat sekitar saja. Keberadaan dam-dam swadaya yang letaknya berada di aliran sungai, terkadang menghambat atau mempengaruhi terhadap kelancaran pasokan suplai air baku ke embung. Apalagi waktu musim kemarau pasti akan sangat mempengaruhi dan mengganggu stok suplai air baku ke Instalasi Pengolahan Air (IPA). Setiap tahun di Kotabaru terjadi krisis air bersih, terutama di Pulau Laut Utara disebabkan karena masih kurangnya jumlah dan kapasitas Embung yang dimiliki PDAM.
Hampir seluruh daerah yang ada di wilayah Kota Dumai mengalami krisis air bersih, apalagi memasuki musim kemarau. Beberapa daerah yang tidak mengalami krisis air bersih diantaranya Kelurahan Bukit Batrem, Kecamatan Dumai Timur; Kelurahan Bukit Timah, dan Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Dumai Selatan; serta Kelurahan Bagan Besar, Kelurahan Bukit Kayu Kapur, dan Kelurahan. Bukit Nenas, Kecamatan Bukit Kapur.
Di Penajam Paser Utara, Kalimantan Tengah, ada 24 kelurahan/desa yang masuk kategori krisis air bersih PDAM yakni wiilayah yang sebagian besar pesisir. Penyebab utamanya krisis air karena ketiadaan bahan baku air yang ingin dikelola menjadi air bersih oleh PDAM kemudian kwalitas bahan baku yang didapat kadarnya PH nya masih dibawah standar. Disamping itu, tingginya tingkat keasaman air disebabkan adanya pencemaran lingkungan yang diduga aktivitas pertambangan batubara dihulu Sungai Lawe-Lawe serta aktivitas pembangunan dam Lawe – Lawe.
Daerah yang mengalami krisis air bersih, di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dantaranya yakni Pesisir Pantai Kelurahan Mamolo sampai Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan (HLPN) di Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, Kecmatan Sebatik Tengah, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebatik Utara, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Sei Menggaris dan Kecamatan Sembakung Atulai. Beberapa penyebab terjadinya krisis air bersih karena pembukaan lahan perkebunan sawit di daerah/wilayah kepulauan padahal tanaman kelapa sawit merupakan salah satu penyerap air terbanyak, adanya aktivitas pembukaan lahan dan penyalahgunaan hutan lindung yang menjadi zona penyerapan air. Dampak yang terjadi adalah bahwa saat ini embung dan sumber air bersih dari DAS semakin menipis dan tercemar.
Krisis air bersih yang terjadi di beberapa daerah dipicu oleh sejumlah faktor antara lain pengaruh masalah iklim atau kekeringan yang berkepanjangan, kurang tersedianya embung-embung atau tempat penyimpanan air, adanya aktifitas perkebunan kelapa sawit yang memerlukan serapan air sangat besar, penyalahgunaan hutan lindung sebagai daerah resapan air, termasuk adanya aktifitas penambangan di berbagai hulu atau daerah aliran sungai. Krisis air bersih ini berpotensi menimbulkan permasalahan ke depan, karena kebutuhan akan air bersih atau fresh water akan meningkat ke depan. Bahkan, fresh water menjadi salah satu indikator ancaman serius beberapa dekade ke depan menurut lembaga nirlaba RAND Corporation dari Amerika Serikat.
*) Pemerhati lingkungan hidup

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent