Sulitnya Menangani Sampah di Indonesia

Sulitnya Menangani Sampah di Indonesia

Oleh : Agung Wahyudin

Permasalahan penanganan sampah tampaknya masih menjadi momok yang belum terselesaikan solusinya secara komprehensif di Indonesia. Di Kabupaten Jombang, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Dusun Gedangkeret, Desa Banjardowo, Kec. Jombang, dengan luas sekitar 31 hektar tersebut diharapkan dapat menampung sampah yang per harinya mencapai 503,45 ton, dan diprediksi di tahun 2019 mencapai 505,53 ton per hari. Keluhan yang hingga saat ini masih sering terdengar dari warga sekitar lokasi TPA ialah terkiat bau busuk, aroma yang keluar dari TPA. Terlebih lagi memasuki musim penghujan ini, setelah selesai hujan pasti luapan aroma busuk dari TPA muncul. Pemukiman yang terdekat dari TPA hanya berjarak sekitar 250 meter.
Sementara itu, di Kota Langsa, Aceh, pengelolaan sampah di Kota Langsa terkendala, terutama kesadaran masyarakat Kota Langsa yang belum bisa tertib membuang sampah. Hal ini sudah dilakukan terobosan oleh Pemerintah Kota Langsa dengan mengeluarkan Qanun No 3 Tahun 2014, tentang Pengelolaan Sampah. Lokasi bank sampah yang berada di TPA Kota Langsa tersebut pernah dijadikan salah satu destinasi tujuan wisata Kota Langsa. Sedangkan di Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Pemda setempat menghadapi kendala yaitu tidak adanya pengolahan sampah di lokasi dan juga pekerja tidak terkoordinir sehingga sering tidak dilakukan pemadatan sampah yang menyebabkan bau menyengat di sekitar lokasi. Dusamping itu, permasalahan yang masih terjadi adalah pembuangan sampah oleh pekerja secara sembarangan dan cenderung tidak terkoordinir sehingga menyebabkan bau sampah di sepanjang jalan tersebut. Selain itu, pernah juga pembuangan sampah itu tidak ditutup menggunakan tanah yang dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan masyarakat.
Masalah pengelolaan sampah di Pasar Sidomulyo Lampung Selatan dimana, pasar Sidomulyo Lampung Selatan tidak memilik lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selama ini pembuangan limbah ke TPA di Desa Rantau Minyak Kecamatan Candipuro Lampung Selatan dengan luas 1 hektar. Masyarakat Desa Rantau Minyak Kecamatan Candipuro Lampung Selatan meminta TPA dipindahkan ke TPA Lobuk Kapal Gontor, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.
Sedangkan, Kabupaten Lombok Timur, NTB memiliki satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dibangun pada tahun 2000 dengan bantuan dari Kementerian PUPR RI yang terletak di Kelurahan Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupten Lombok Timur. TPA Ijobalit memiliki lahan seluas 9,5 ha yang dilengkapi dengan dua kolam sampah (land field) serta dua alat berat eskavator dan satu alat berat buldozer. Upaya pengurangan limbah yang didistribusikan ke TPA Ijobalit dilakukan beberapa cara, salah satunya dengan Padasuka (Program Desa Swadaya Kebersihan). Pada program tersebut, semua desa didorong untuk melakukan pengolahan ataupun pemilahan limbah yang akan dibuang. Limbah yang bernilai ekonomis dapat dikumpulkan dan dijual kepada pengepul. Selain itu, telah membuat bank sampah di berbagai tempat yang beroperasi mirip dengan pengepul, hanya saja uang hasil tabungan sampah ekonomis dibagikan kepada nasabah bank sampah setiap akhir bulan.
Penanganan limbah sampah di Kota Bengkulu masih menggunakan teknik konvensional seperti melalui pengelolaan sistem open dumping pembuangan ke TPA, dengan menggunakan alat berat untuk mendatarkan sampah tersebut untuk dijadikan kompos, dibakar, ada yang dibuang kesungai dan diambil oleh pemulung di kawasan tersebut. Kendala pengelolaan limbah sampah di Kota Bengkulu meliputi fasilitas sarana dan prasarana masih kurang memadai, rendahnya kesadaran masyarakat akan sistem pengelolaan sampah sehingga pengelolaan sampah belum dapat berjalan secara optimal dan masih minimnya biaya operasional dalam pengelolaan sampah.
Kemudian, kendala dalam pengelolahan sampah di Kabupaten Ogan Ilir, seperti tidak berfungsinya TPA Palemraya secara maksimal. Kondisi TPA Palemraya masih dianggap layak apabila melihat kualitas tanah yang kedap air, sehingga lokasi tersebut masih bisa dilanjutkan sebagai lokasi pengelolahan sampah. Di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kendala yang terdapat daerah pelosok desa maupun daerah perkotaan, seperti belum adanya kesadaran atau kepatuhan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Dampak dengan membanjirnya limbah sampah, dapat mengakibatkan pada saat musim hujan akan terjadi bajir, pencemaran udara mengeluarkan bauk yang tidak sedap/busuk, bisa menimbulkan banyak penyakit dilingkungan masyarakat setempat.
*) Pemerhati lingkungan hidup

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent