MENYIA-NYIAKAN WAKTU TANPA FAEDAH ADALAH AKIBAT DARI HATI YANG LALAI DARI DZIKRULLOH

MENYIA-NYIAKAN WAKTU TANPA FAEDAH ADALAH AKIBAT DARI HATI YANG LALAI DARI DZIKRULLOH

قال الشــيخ العـلامــة

محمـد بـن صــالح الـ؏ـثيمين ـ رحمـہ اللّـہ تـعالـﮯ :

 

إذا رأيتَ من نفسكـ أن أوقاتكـ ضائعـــة بلا فائدة فيجب عليكـ أن تلاحظ قلبكـ ؛ فإن هذا لا يكــــون إلا مـن غفلـة القلب عن ذكر الله تعالى !!!

 

ولو نظــــرتَ فيما سبق من التاريخ كيف أنتج العلماء رحمهـــم الله ما أنتجــوا من المؤلفات، ومن فطاحل العلماء الذيـــن تخرجوا على أيديهم فـﮯ أوقات قد تكون أقل من الوقت الذي عشتــہ أنت، وذلكـ بسبب ما ملأ الله تعالى بــہ قلوبهم من ذكره .

 

المصــدر :

تفسير ســـورة الأحزاب【 صـ ٤٩٩ 】

As-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh berkata :

“Apabila kamu melihat pada dirimu, bahwa waktu-waktumu itu (kebanyakannya adalah) sia-sia tanpa adanya faedah (manfaat yang berharga), maka wajib atas kamu untuk memperhatikan (keadaan) hatimu !

Karena sesungguhnya, hal itu tidaklah terjadi, kecuali disebabkan oleh kelalaian hatimu dari Dzikrullohi ta’ala (mengingat Alloh ta’ala) !

Seandainya kamu perhatikan apa yang pernah ada/terjadi pada orang-orang di masa lalu di dalam sejarah, (khususnya) tentang bagaimana para ulama rohimahulloh menghasilkan karangan-karangan (yakni kitab-kitab yang merupakan karya-karya ilmiah mereka).

Salah seorang jemaah haji dan beberapa jemaah lainnya sedang beribadah

(Bahkan) diantara mereka ada yang keluar dari tangan mereka (yakni mereka telah menghasilkan beberapa karya tulis yang banyak), di waktu-waktu yang mana kamu anggap remeh (waktu-waktu tersebut) di jaman kamu hidup sekarang ini.

Mengapa hal itu bisa terjadi ?

Hal itu disebabkan karena Alloh ta’ala telah memenuhi hati-hati mereka itu dengan Dzikir (mengingat) kepada-Nya.”

[ TAFSIR AL-QUR’ANIL ADZIM, SURAT AL-AHZAB (hal. 499), karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh]

Catatan :

Ya, benar ! Orang yang menyia-nyiakan waktunya tanpa amal sholih, dan tanpa melakukan hal-hal yang memberi manfaat kepadanya untuk kehidupan akhiratnya nanti, itu pertanda bahwa dia adalah orang-orang yang lalai dari mengingat Alloh ta’ala.

 

Padahal, waktu kita  di dunia ini adalah sesuatu yang sangat berharga sekali. Bahkan WAKTU itu adalah salah satu nikmat yang sangat agung/besar dari Allâh subhanahu wa ta’ala kepada kita umat manusia ini.

Maka sudah selayaknya kita memanfaatkannya dengan baik, efektif dan semaksimal mungkin, untuk melakukan amal-amal shalih, selagi kita masih bisa melakukannya.

Bahkan Allâh ta’ala telah bersumpah dalam firman-Nya tentang waktu :

والعصر ، إن الإنسان لفي خسر، إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dlm mentaati kebenaran, dan nasihat-menasihati di dalam menetapi kesabaran.” [QS Al-‘Ashr : 1-3].

Dalam hadits yang shohihpun, Nabi shollallohu alaihi wa sallam juga bersabda :

نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ

“Ada dua kenikmatan, yang mana kebanyakan manusia tertipu dengannya, (yaitu) : nikmat kesehatan dan waktu luang.”

[HR Imam Al-Bukhari no. 5933].

Dalil-dalil itu semua menunjukkan, betapa besar kedudukan waktu itu bagi seorang Muslim. Sehingga tidak layak bagi kita untuk menyia-nyiakannya.

Dan sungguh benar pula apa yang disampaikan di atas, bahwa penyebab seseorang menyia-nyiakan waktunya tanpa faedah itu adalah “lalai dari mengingat Alloh ta’ala !”

Padahal, dzikir (selalu mengingat Alloh ta’ala itu) banyak sekali keutamaannya dan manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama : Dzikir itu dapat menghidupkan hati.  Bahkan, dzikir itu sendiri pada hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya, sehingga tidak akan bisa hidup sebuah hati, tanpa adanya dzikir kepada Allah. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh pernah berkata :  “Dzikir bagi hati itu, seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air ?” [Perkataan beliau ini, dinukil oleh murid beliau sendiri, yakni Al-Imam Ibnul Qayim rohimahulloh dalam Al-Wabilus Shayyib, hal. 70]

Kedua : Banyak berdzikir itu dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan. Mengapa bisa begitu ? Ya, karena diantara sifat orang-orang munafik itu adalah sangat sedikit sekali berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya) :

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, padahal Allah akan membalas tipu daya mereka itu. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalatnya itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka itu mengingat kepada Allah, kecuali sedikit sekali.” [An Nisa’ : 142].

Sahabat Nabi yg mulia, Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu anhu, pernah ditanya tentang Khawarij : “Apakah mereka itu munafik ataukah bukan ?”

Beliau menjawab : “Orang munafik itu tidaklah berdzikir (mengingat) kepada Allah, kecuali sedikit.” Ini merupakan isyarat, bahwa diantara tanda kemunafikan pada seseorang itu adalah sedikit berdzikir (mengingat) kepada Allah.

Berdasarkan hal ini, maka banyak berdzikir merupakan penyelamat dari sifat nifaq (kemunafikan). [ Fiqh Al-Ad’iyah Wal Adzkar, hal. 24]

 

Ketiga : Dzikir itu dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi (tekanan jiwa), dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-sajalah hati itu menjadi tenteram.” [Ar Ra’du : 28].

Keempat : Dzikir itu dapat mengusir syaithan  dan melindungi orang yang berdzikir itu darinya. Dan manusia itu, ketika dia lalai dari dzikir, maka syaithon langsung menempel dan menggodanya, serta menjadikannya sebagai teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (kepada Robb) Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan), maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az Zukhruf/43 :36].

Jadi, seorang hamba itu tidak mampu untuk melindungi dirinya dari tipu daya syaithan, kecuali dengan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla..

Dan masih banyak keutamaan dan manfaat dzikir tersebut. Karena itu, tidak selayaknya kita meremehkannya.

Intinya : marilah kita benar-benar memanfaatkan waktu kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita sia-siakan begitu saja.

Perbanyaklah isi dengan ibadah dan amal sholih, atau hal-hal yang bermanfaat, khususnya untuk bekal dalam kehidupan kita di akhirat nanti !

Semoga Alloh ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk bisa memanfaatkan waktu dengan benar !

Wallohu a’lamu bis showab…. Semoga nasehat yang ringkas ini bermanfaat bagi kita semuanya, walhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin…. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya (Red).

 

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent