HARUS ADA STRATEGI MENGOKOHKAN KECINTAAN KEPADA BANGSA DAN NEGARA

HARUS ADA STRATEGI MENGOKOHKAN KECINTAAN KEPADA BANGSA DAN NEGARA

oleh : Andi Naja FP Paraga

Seharusnya Bangsa ini telah menjadi Bangsa yg Kuat karena berkali-kali teruji dengan Ujian yang Maha Dahsyat dari Zaman ke Zaman tapi semua berhasil dilalui walau solusinya hanya SEBESAR LOBANG JARUM. Masa Intimidasi Penjajahan Portugis cukup lama ditambah Belanda dengan VOCnya selama 350 tahun,ditambah lagi Pendudukan Militer Jepang hampir 3 tahun tapi kita bisa menciptakan Kemerdekaan.

Baru saja kita Merdeka SEKUTU dipimpin Belanda didukung Inggris kembali melakukan Intimidasi dan Intervensi namun dalam hitungan 1(satu) bulan berhasil dihalau keluar dari Republik Indonesia yang kita cintai. Semua itu membutuhkan Stategi yang sesuai dengan Kondisi dan Situasinya. Tentu menghadapi Penjajah Asing dengan strategi penghalauan sangat sesuai mengingat tidak seorang pun dari anak Bangsa yang suka dengan penjajahan Asing apapun istilahnya baik pendudukan atau apapun.

Selanjutnya kita menghadapi Pemberontakan oleh sesama komponen bangsa di Era Bung Karno nyaris selama 22 Tahun dari Pemberontakan PKI,PRRI PERMESTA,DI/TII dan lain-lain. Strategi yang digunakan melawan kelompok pemberontak tentu berbeda dengan Strategi menghadapi Penjajah. Para Pendiri Bangsa yang masih setia terhadap Pancasila dan UUD 1945 terus melakukan konsolidasi walaupun Bung Karno menjadi Korban. Memang setiap yang setia kepada Pancasila dan UUD 1945 pada kenyataannya selalu terdepan menjadi Suri Tauladan namun kerap menjadi korban sebuah perjuangan. Tentu kita tahu tidak sedikit pihak yang tidak suka dengan Presiden Sukarno dan beliau sangat tahu akan hal itu,namun beliau tetap berusaha menjalankan strateginya mempertahankan Kesatuan dan Persatuan Bangsa bahkan rela diberhentikan sebagai Presiden RI lewat Sidang MPRS yang dipimpin Mantan sejawatnya sendiri di Era Pemerintahannya. Penderitaan panjang yang dialaminya pasca kejatuhannya diterima dengan tulus ikhlas demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa yang ia Proklamirkan.

Era pun berubah Orde Baru berkuasa,semua orang-orang Kontra Sukarno di Masa Orde Lama kembali dari persembunyiaannya bahkan banyak diantaranya memperoleh kedudukan terhormat di Era Pemerintahan Orde Baru. Tentu kita dapat menebak apa yang terjadi dan dapat dipastikan bagaimana Wajah dan Batang Tubuh Bangsa Indonesia saat itu. Seketika Demokrasi menjadi barang langka,Hak berbicara terbatas,sikap kritis justru membahayakan diri sendiri hingga membahayakan keluarga. Jika ada yang tidak sehaluan politik dengan penguasa maka keluarganya ikut sengsara. Maka Strategi yang dipilih menghadapi Rezim seperti ini tentu harus berbeda seperti menghadapi Persoalan-persoalan sebelumnya. Banyak yang meniru Strategi Nabi Musa Alaihissalam rela menjadi anak angkat Fir’aun yang penting Bangsa Bani Israel tidak menjadi korban intoleransi Penguasa. Kader-kader Pancasila diberbagai lini baik dilini agama seperti Nahdatul Ulama mempraktekan strategi Nabi Musa di era orde baru. Kepiawaian Kader-kader NU berstrategi dapat mengurangi gesekan Kelompok Agama dengan Pemerintah,begitupula kelompok-kelompok Nasionalis banyak yang memilih Gerakan Non Konfrontatif demi menunggu momentum yang tepat untuk bangkit belawan dan berjuang secara Massive.

Lantas Stategi apa yang digunakan ketika Awal Reformasi. Secara De Facto Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan(PDIP) adalah Partai Pemenang Pemilu Legislatif 1999. Namun semua itu tidak lantas membaea PDIP mendapatkan Jabatan Presiden RI. MPR RI dan DPR RI justru dipimpin oleh kelompok yang menyebut dirinya Kelompok POROS TENGAH yang dominasi Mantan Orde Baru justru dominan mengatur Sistem Kenegaraan. Walaupun demikian mereka tak bisa membendung Kader Nahdatul Ulama menjadi Presiden dan Kader Nasionalis menjadi Wakil Presiden. Bagaimana Strategi memenangkan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden dan Hj Megawati menjadi Wakil Presiden justru ketika MPR RI dan DPR RI dipimpin orang-orang ORBA. Itupun sebuah Strategi.

PDI Perjuangan memilih sebagai Oposisi ketika Susilo Bambang Yudoyono menjadi Presiden. Partai yg dilahirkan Nahdatul Ulama PKB memilih bergabung bersama Pemerintahan. Inipun sebuah strategi yang cerdas dan faktanya hiruk pikuk politik justru sepih ketika PDI Perjuangan oposisi. Namun di beberapa daerah kader-kader PDIP ada yang menjadi Kepala Daerah Tingkat Propensi bahkan Kabupaten/Kota. Strategi seperti ini sungguh membuat Indonesia sejuk dan demonstrasi dan aksi-aksi kontra pemerintah sangat kecil. Ketika Agamis Sejati dan Nasionalis Sejati bersinergi memang selalu menciptakan keindahan. Itulah yang terjadi di Era Bung Karno bersinerginya Agamis dan Nasionalis sejati sehingga mampu menghalau Sekutu dan Separatis selama 22 Tahun.

Kontestasi Politik 2014 meniscayakan pergelutan 2(dua) poros besar. Situasi politik meruncing,narasi politik ibarat musik hampir semua bergenre Rock Metal. Hanya saja yang meredam karena Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden berlangsung terpisah. Keika Pemilu legislatif aroma Head to Head Partai Politik tidak menyengat pernafasan kita dan berlangsung tertib. Namun ketika Pemilu Presiden dimulai Narasi yang mencekam mulai bermunculan,Narasi Islam dan Anti Islam digoteng sampai hangus,narasi bangkitnya Partai Komunis Indonesia tak lepas masuk dapur politik direbus,digoreng,disangrai sehingga tensi darah politik srmakin tinggi. Bahkan setelah Pemilihan Presiden usai gejolak muncul di DPR RI aroma perebutan posisi pemimpin DPR dan MPR RI seperti aroma tanduk dan taji yang beradu tajam. Tentu Strategi menghadapi situasi ini berbeda dengan situasi sebelum-sebelumnya. Strategi merangkul namun tetap waspada adalah strategi yang paling pas walaupun siapapun bisa berpolitik”menggunting dalam lipatan”.

Kini kita telah memasuki Pemilu 2019 dima Pemlu Legislatif dan Pemilu Presiden diselenggarakan bersamaan dan 1(satu) Paket. Namun mesin-mesin politik sudah mulai dipanaskan sejak Pilkada Serentak yang lalu jadi begitu memasuki masa kampanye suasana kontestasi memang sudah panas bahkan searah dengan panasnya musim kemarau,banyaknya bencana Alam ditambah lagi panasnya Pro Kontra Pasca Hizbut Tahrir Indonesia(HTI) dibubarkan diperparah beragam Hoax dan Hate Speech yang tak kunjung berkurang ditambah melemahnya nilai mata uang semua negara termasuk rupiah terhadap dollar. Belum lagi Aroma Perang Suriah,Irak dan Yaman turut mempengaruhi tidak saja cara pandang bahkan merubah ideogi dunia. Semua situasi itu turut meningkatkan suhu politik semakin tinggi,panas sepanas panasnya. Lalu bagaimana Strategi menghadapi situasi dan kondisi semacam ini.

Pertama,Tingkatkan dan Integrasikan Nasionalisme Bangsa dan menyepakati bahwa pemilu adalah satu dari sekian proses untuk memperbaiki bahkan memperbaharui Nasionisme dan Pembangunan Bangsa yang berkelanjutan.

Kedua,Buatlah Narasi politik yang tidak provokatif,hoax,hate speech,ciptakan narasi politik yang baik dan apa adanya,sampaikan keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai dan yang masih terus diperjuangkan.
Ketiga,sadarilah bahwa kesalahan sekecil apapun bisa menjadi bumerang,karena itu berhati-hatilah.

Demikian semoga uraian diatas bermanfaat.
Salam Revolusi Mental Pemilu 2019
ANDI NAJA FP PARAGA
FORUM PENCERAHAN INDONESIA

 

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent