Joko Widodo Bisa Dua Periode Menjadi Presiden

Joko Widodo Bisa Dua Periode Menjadi Presiden

Jakarta. Presiden Joko Widodo bisa menjadi Presiden Indonesia sampai dua periode karena kinerjanya semakin dicintai rakyat. Sosok Jokowi adalah tokoh reformis di Jawa Tengah ketika menghadapi kekuatan besar pada jaman Orba. Memang masih ada perilaku Jokowi dimultitafsirkan oleh sebagian orang contohnya hubungan Jokowi dengan Islam diisukan yang tidak tidak, padahal hubungannya baik-baik saja.

Demikian dikemukakan Faizal Assegaf dalam diskusi bertema “Memperingati Lengsernya Soeharto! Amin Rais, Bapak Reformasi?” yang diselenggarakan oleh Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (JARI 98) di Jakarta belum lama ini, seraya menambahkan, gerakan reformasi sampai saat ini disabotase, karena pandangan terhadap reformasi adalah berbeda setiap cara memandangnya.

“Kalau kami melihat reformasi adalah perubahan dari sentralisasi menjadi tersebar. Perbedaan antara Orba dan sekarang adalah Partai dalam Orba hanya tiga saat ini sudah sangat banyak. Dari cara pandang sistim maka setelah Orba dan reformasi adalah kesamaan sentralistik dimana semua kesalahan ditimpakan kepada Presiden yang seharusnya tidak boleh terjadi, sebab reformasi menentang desentralisasi,” ujar aktifis 98 ini seraya menegaskan bapak reformasi adalah Sri Bintang Pamungkas bukannya Amin Rais, sebab sifat Sri Bintang Pamungkas yang revolusioner menjadikan anomali dikalangan aktivis.

Sementara, Boni Hargens mengatakan, oposisi sudah kehilangan kekuatannya sehingga memunculkan berita hoax. Kehadiran Amin Rais sama dengan kehadiran tokoh Rocky Gerung dananya yang mana semua pernyataan senantiasa membuat gaduh, pernyataan Amien Rais soal Partai Allah dan Partai Setan adalah membahayakan bagi peradaban.

“Pernyataan Rocky Gerung adalah filsafat yang menyebabkan kegaduhan karena ucapan dan perbuatannya, Kalau tindakan kedua orang tersebut dan hal lainnya yang membela demokrasi karena jubah agama adalah bahaya bagi NKRI, tidak ada perbedaan agama dan SARA dalam membangun NKRI,” kata pengamat politik ini seraya menyetujui Sri Bintang Pamungkas sebagai oposisi yang cerdas dan menggunakan saat yang tepat, sebab oposisi non partai lebih baik daripada oposisi partai.

Sedangkan, Kapitan Kelibay mengatakan, semua kegiatan politik suatu negara dipengaruhi kegiatan politik regional dan internasional, dan sebenarnya ada tiga hal penting terkait reformasi di Indonesia.

Menurut peneliti Indonesian Public Institute ini, tiga poin penting reformasi adalah adanya pelanggaran HAM, pergerakan 98 ditunggangi oleh kepentingan global yang mana di tahun 96 terjadi krisis global di dunia, sehingga semua bank mengalami trouble dan terjadinya Reformasi ditunggangi kepentingan global, hal ini juga terjadi saat pemerintahan Jokowi yang mana terjadi konflik agama. (Bayu K).

 

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent