Penanganan Napiter Perlu Dievaluasi

Penanganan Napiter Perlu Dievaluasi

Peristiwa rusuh di Mako Brimob, yang telah mengakibatkan gugurnya beberapa anggota Polri perlu menjadi catatan serius. Narapidana kasus terorisme (Napiter) di Mako Brimob mempunyai karakteristik diehard dan tentu saja masih radikal, sehingga tidak ditempatkan di Lapas yang bercampur dengan napi kriminal atau kasus lainnya. Selain itu napiter terorisme di Mako Brimob untuk mempermudah proses hukum.

Napiter dengan karakter diehard ini, tentu saja sangat berbahaya jika berulah, pemicunya bisa apa saja. Para napiter ini berkumpul menjadi satu, karena satu kasus yang mirip dan ideologi radikal yang sama. Jika ada masalah atau ketidakpuasan, maka satu teriakan provokasi bisa mempengaruhi yang lain. Napiter ini semakin berbahaya jika mereka adalah eks kombatan, karena mempunyai kemampuan untuk bertempur

Meskipun ada pihak yang menolak menghubungkan aksi ini dengan ISIS, namun catatan yang diperoleh dari SITE perlu menjadi perhatian serius. Rusuh di Mako Brimob tersebut diklaim berhubunan dengan ISIS. Hal ini secara jelas ditampilkan di SITE (SITE Intelligence Group) yang dapat diakses di laman ent.siteintelgroup.com yang mengutip dari kantor berita ISIS, Amaq News Agency, dikatakan telah terjadi baku tembak yang cukup sengit antara pasukan atau anggota ISIS dengan Densus 88 di dalam rumah tahanan Mako Brimob. SITE adalah lembaga yang cukup kredibel di bidang kajian terorisme dan radikalisme.

Polri tentu saja diharapkan dapat segera mengendalikan situasi ini, tentu saja dengan tetap memperhatikan keselamatan petugas dan dampak bagi masyarakat secara umum. Dampak yang perlu diperhatikan adalah jika terjadi aksi yang heroik dari kelompok napiter bisa memicu kebangkitan para sleeper cell dan penganut paham radikal yang berpotensi melakukan aksi teror lone-wolf. Inilah yang harus dimengerti oleh masyarakat umum sehingga wajar jika Polri sangat hati-hati dalam bertindak dan menyampaikan informasi karena pertimbangan jangka panjang.

Terlepas dari kejadian tersebut, tentu perlu dilakukan evaluasi terhadap penanganan napiter agar kejadian rusuh di Mako Brimob seperti saat ini tidak terjadi lagi. Napiter yang masih tergolong deihard harus diperlakukan khusus agar tidak membahayakan orang lain termasuk petugas. Tentu bisa dibayangkan dalam rumah tahanan Mako Brimob saja bisa melakukan hal yang sangat berbahaya apalagi jika ditempatkan di Lapas untuk narapidana umum atau bahkan ketika hidup bebas di masyarakat.

Masyarakat perlu didorong agar tidak terprovokasi oleh muatan-muatan politik yang mendompleng dari isu rusuh di Mako Brimob ini. Terorisme adalah ancaman luar biasa yang perlu penanganan yang tidak biasa. Dukungan dari masyarakat kepada negara untuk menangani terorisme perlu diberikan dengan konstruktif dan positif. Aksi-aksi yang kontraproduktif, termasuk bersikap skeptis terhadap penanganan terorisme justru akan membuka celah kerawanan yang bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk ancaman terorisme berikutnya.

*) Stanislaus Riyanta, pengamat terorisme, mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent