Memprediksi Hasil Pemilu Parlemen Malaysia, 9 Mei 2018

Memprediksi Hasil Pemilu Parlemen Malaysia, 9 Mei 2018

Malaysia yang memiliki 13 negara-negara bagian yaitu Johor, Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Perlis, Pulau Pinang, Selangor, Terengganu, Sarawak, dan Sabah, serta 3 wilayah persekutuan di Malaysia yaitu Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan akan menggelar pemilu parlemen pada 9 Mei 2018, dimana ada dua poros yang sama-sama kuat bertarung yaitu Poros Barisan Nasional (BN) atau UMNO yang mendukung petahana PM Najib Razak yang berusia 64 tahun versus Poros Oposisi yang dikoordinir Partai Pakatan Harapan atau PKR dan Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang dipimpin mantan PM Malaysia berusia 93 tahun, Mahathir Mohamad.

Ada tiga koalisi besar di Malaysia yaitu pertama, Koalisi Berkuasa yaitu Barisan Nasional yang terdiri atas 13 partai. Kedua, Koalisi Oposisi Pakatan Harapan, yang terdiri atas Partai Keadilan Rakyat, Partai Pribumi, Democratic Action Party (DAP), dan Partai Amanah. Ketiga, Koalisi Gagasan Sejahtera, yang terdiri atas Partai Islam Pan Malaysia (PAS), Partai Ikatan Bangsa Malaysia (Ikatan), Berjasa dan Partai Cinta Malaysia (PCM). Dikabarkan bahwa sebanyak 14 juta akan memberikan pilihan politiknya,
walaupun diantara jumlah tersebut kurang lebih 3,6 juta pemilih pemula masih bingung menentukan pilihan atau kemungkinan akan melakukan Golput.

Mahathir Mohamad yang pernah menjabat PM Malaysia selama 22 tahun dari 1981 s.d 2003 maju ke pemilu parlemen melalui negara bagian Langkawi. Bagi Mahathir, Langkawi adalah wilayah yang memiliki kedekatan batin dengannya. Ketika menjadi PM Malaysia, Mahathir menjadikan Langkawi sebagai sebuah wilayah pelabuhan bebas yang ditujukan untuk mempromosikan perdagangan Malaysia dan mendirikan Otoritas Pengembangan Langkawi. Oleh karena itu, PKR dibawah Mahathir Mohamad diperkirakan akan mendapatkan suara sangat signifikan di Langkawi, Kubang Pasu atau Putrajaya, Kedah, Selangor serta
Kuala Lumpur.

Sementara itu, PM Malaysia Najib Razak yang notabene merupakan “anak didik” Mahathir Mohamad akan maju dari negara bagian Pahang. Negara bagian ini selalu menjadi basis suara BN atau UMNO sejak tahun 1976.

Kekuatan dan kelemahan Mahathir Mohamad

Menurut kalangan pendukungnya, sosok Mahathir Mohamad dianggap sebagai sosok yang sangat berjasa dalam kemajuan Malaysia saat ini, walaupun oleh lawan politiknya Mahathir dinilai sebagai sosok anti globalisasi atau anti kapitalisme. Hal ini disebabkan karena Mahathir pernah menentang ketidakadilan dalam sistem kapitalisme, nilai negatif Barat dan orthodoxy
agama secara terbuka, berani, sistematik, dan efektif sehingga menggemparkan dunia di samping meningkatkan marwah negara.

Prestasi-prestasi Mahathir Mohamad dalam sejarah Malaysia antara lain pernah mengambil tanah milik Malaysia yang dikuasai Inggris yaitu Carcosa, membantu Permodalan Nasional Berhad (PNB) pada 7 September 1981 dari serangan London Stock Exchange dan mengembalikan kekuasaan Malaysia untuk memiliki ladang-ladang minyak Guthrie. Bahkan, Mahathir Mohamad pernah menggagas terbentuknya East Asian Economic Caucus pada tahun 1997 untuk meminimalisir “intervensi” George Soros dan IMF di Malaysia. Mahathir pada 30 Juli 1981 membebaskan 21 orang yang ditahan dengan menggunakan aturan ISA (Internal Security Act).

Akibat keberaniannya menentang arus negatif globalisasi masuk ke Malaysia, maka banyak julukan diberikan kepada Mahathir antara lain George Soros memanggil Dr. Mahathir *“A menace to his own country”* (seorang yang menjadi ancaman kepada negaranya sendiri). Kemudian, majalah The Economist dalam edisi 4 Desember 1999 menyebut Dr. Mahathir sebagai pembinasa
globalisasi.

Meskipun demikian, ada juga beberapa pemikir internasional yang “membela dan memuji” Mahathir Mohamad seperti Michael Leifer dari Asia Research Centre, London School of Economics dalam tulisannya dalam International Herald Tribune pada 29 Maret 2000. Bahkan, International Herald Tribune dalam laporannya pada 29 Maret 2000 juga memuji Mahathir. Sedangkan, mantan
Hakim Mahkamah Agung Malaysia, Harun Hashim dalam artikelnya di New Straits Times pada 14 Januari 1999 juga memujinya. Mahathir juga dikenal di kalangan loyalisnya sebagai Perdana Menteri yang gagah, bijaksana, Mr Tactician, perancang pintar, populer, karismatik dan *the best actor*.

Namun, masa jaya Mahathir Mohamad mulai redup sejak Malaysia didera krisis ekonomi di tahun 1980-an, bahkan Mahathir sempat membenci media asing karena mereka memberitakan bahwa krisis ekonomi Malaysia akan berhenti jika Mahathir berhenti sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Kelemahan koalisi oposisi Malaysia adalah saat ini mereka rentan dan mengalami keretakan antara lain dengan hengkangnya Partai Islam Pan-Malaysia dari koalisi oposisi dan penahanan Anwar Ibrahim sejak tahun 2014. Koalisi oposisi terancam kehilangan basis pemilih di pedesaan Melayu

Kelemahan mencolok lainnya dari Mahathir Mohamad yaitu terkait dengan usianya sehingga manusiawi jika figur ini diragukan kekuatan mental dan fisiknya dalam memimpin Malaysia 5 tahun ke depan, karena Mahathir akan tercatat sebagai pemimpin tertua di dunia. Terpilihnya Mahathir Mohamad juga menimbulkan pertanyaan besar terkait keberhasilan kaderisasi kepemimpinan nasional di Malaysia yang dihasilkan oleh partai-partai politik yang ada di Malaysia. Jika Mahathir Mohamad menang atau terpilih,
maka tidak mungkin akan muncul penilaian bahwa kaderisasi politik di Malaysia “berjalan di tempat”.

Kekuatan dan kelemahan Najib Razak

Di kalangan pendukung atau loyalisnya, sosok Najib Razak adalah sosok politisi yang soft, sederhana, penyabar, disenangi oleh semua orang, lembut, seorang diplomat yang cakap, teknokrat yang bijak serta tegas dan berkesan. Namun citra tersebut kemungkinan akan menyusut pasca pihak berwenang di Malaysia pada 5 April 2018 memerintahkan partai mantan PM
Malaysia Mahathir Mohamad yaitu Partai Pribumi Bersatu Malaysia untuk sementara dibubarkan. Keputusan itu memberi pukulan besar bagi oposisi menjelang pemilihan umum. Seorang pejabat Partai Pribumi, Wan Saiful Wan Jan, menyebut keputusan pemerintah itu merupakan penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim yang bersikeras untuk terus berkuasa.

Pemilu secara resmi dijadwalkan berlangsung Agustus 2018. Menurut catatan, UMNO atau BN dibawah kepemimpinan Najib menurun pamornya sejak tahun 2009, sedangkan pihak oposisi melakukan terobosan dibawah Anwar Ibrahim. Akibatnya, dukungan koalisi Najib yang berkuasa menyusut dalam dua pemilu terakhir dan pada tahun 2013 kalah dalam perolehan jumlah suara untuk
pertama kalinya, karena kehilangan mayoritas dua pertiga kursi di parlemen. Tahun 2013, partai oposisi memenangkan pemungutan suara untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia.

Menghadapi pemilu parlemen pada 9 Mei 2018, citra dan popularitas Najib Razak semakin menurun akibat skandal korupsi dana pembangunan negara, yang dikenal sebagai 1MDB, walaupun Razak lolos dalam proses penyelidikan kasus ini. Kasus ini juga membuat perpecahan di antara segmen partai yang berkuasa, di mana sebuah faksi memisahkan diri untuk membentuk partai
nasionalis Melayu lain, yang yang dipimpin oleh Mahathir Mohamad. Skandal lainnya yang terjadi di era Razak yang melibatkan Otoritas Pengembangan Lahan Federal milik negara, atau Felda. Ditambah dengan kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap biaya hidup, pemberlakuan pajak barang dan jasa, penghakiman sepihak terkait anti-demokrasi, dan melemahnya mata
uang Ringgit Malaysia.

Menurut Yin Shao Loong, pengarah Komunikasi Strategik di Pejabat Menteri Besar Selangor dimuat di www.malaysiakini.com, Najib menghadapi masalah dalam bidang air bersih, perumahan yang mahal, cukai, permasalahan sampah, denggi dan pencemaran sungai.

Meskipun demikian, kemungkinan BN/UMNO tetap memiliki peluang untuk memenangkan pemilu parlemen, karena partai ini diperkirakan akan menang di Pahang, Sabah, Sarawak, Terengganu, Perlis, Melaka, Kelantan, Johor, Negeri Sembilan dan Pulau Pinang.

*) Toni Ervianto, alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen (KSI) Universitas Indonesia (UI). Tinggal di Jakarta Timur

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent