Kitab Suci(ku) Fiksi

Kitab Suci(ku) Fiksi

(Syamsuddin Baharuddin)

 

Sebuah pernyataan singkat dan menyengat dari seorang Rocky Gerung, S.S sontak mengundang debat di jagad maya. Hampir-hampir saja semua orang menjadi filusuf. Status singkat hingga artikel panjang muncul di linimasa akun medsos kita.

“Kitab suci itu fiksi”. Kalimat singkat itulah yang memantik keriuhan. Kelompok yang selama ini selalu berbeda pandangan dengan RG membantah pernyataannya dengan berbagai argumen, yang benar-benar filosofis maupun yang terkesan seolah-olah filosofis. Sebagian lagi mengkrtitik dengan kata-kata bernada olok-olokan. Mungkin karena hal-hal seperti itulah, pengguna(an) medsos di negeri ini terbilang sangat tinggi, jauh melebihi pembaca buku berkualitas.

Yang tak kalah menariknya, orang-orang yang selama ini diuntungkan oleh serangan-serangan RG kepada pemerintahan Jokowi sibuk mencari berbagai argumen untuk mendukung pernyataan RG. Meski harus membuat definisi sendiri (yang tak ditemukan di kamus manapun) untuk istilah-istilah yang digunakan RG, para pendukungnya rela dicap tak konsisten dan berwajah dua.

Ajaibnya, kaum angry believers yang selama ini mudah marah jika kitab suci agamanya dinistakan, mendadak menjadi ‘arif dan bijak’ bak seorang filusuf. Mereka yang selama ini membid’ahkan filsafat dan mantik (logika), tiba-tiba menjadi filusuf dadakan, memberi tafsir membela RG atau minimal ‘berjihad’ menyebarluaskan tulisan-tulisan yang membela RG.

Tentang pernyataan RG sendiri, rasanya tak perlu menanggapinya secara serius dan berlebihan. Pertama, RG bukan tokoh penting dan karena itu pernyataan kontroversialnya hanya akan seumur jagung. Kontroversinya akan mereda setelah muncul isu baru yang lebih menghebohkan. Kecuali jika para ‘pembela’ Islam tiba-tiba berubah pikiran dan menggerakkan ‘7 juta umat’ untuk menyeret RG ke ruang pengadilan.

Kedua, kita sebaiknya menakar pernyataan itu berdasarkan apa dan siapa yang mengucapkannya. Ketika RG menyebut “kitab suci adalah fiksi”, ia tak secara eksplisit menyebut kitab suci mana yang ia maksud. Karena itu, anggap saja yang ia sebut sebagai fiksi adalah kitab suci yang selama ini ia yakini sesuai agama yang ia anut. Sebagai akademisi, ia tentu tak akan mengomentari sesuatu yang tak diketahuinya. Dan saya yakin RG belum permah secara serius membaca dan menelaah kitab suci agama lain. Jadi, yang ada di benak saya adalah seorang RG yang sedang berkata, *”kitab suci(ku) itu fiksi*”. Dan saya hanya bisa berseru, emang gue pikirin!

Tapi, point pentingnya sebenarnya bukan sekedar pada debat semantik soal kata “fiksi”. Kita sedang menyaksikan munculnya kecenderungan beragama yang menilai kebenaran bukan lagi pada substansi kebenaran itu sendiri, tapi pada siapa yang mengatakannya. Ada sekelompok orang yang amarahnya mudah tersulut hanya karena merasa simbol-simbol agamanya dilecehkan (oleh orang-orang di luar kelompoknya), tapi bungkam saat esensi ajaran agamanya dihinakan (oleh orang-orang yang berasal dari kelompoknya).

Orang-orang berakal sehat akhirnya menyadari, apa yang selama ini disebut sebagai “penistaan agama”, bukanlah soal “apa yang terucap atau tertulis”, tetapi semata soal “siapa yang mengucapkan atau menuliskannya”. Mungkin karena fenomena seperti itulah, Sayyidina Ali kw mengingatkan kita untuk menilai kebenaran dengan menimbang apa yang diucapkan, bukan siapa yang mengucapkannya.

Fenomena ini jauh lebih mengkhawatirkan ketimbang sekedar pernyataan kontroversial seorang akademisi (yang mungkin telah berubah menjadi partisan dan propagandis).

 

*) Materi ini dibahas dalam kajian pada Malam Jumat akhir Rajab (12/04)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent