Psikoanatomi Radikalisme

Psikoanatomi Radikalisme

Tulisan ini hadir untuk menjawab tiga pertanyaan penting terkait radikalisme. Pertama, mengapa manusia beragama. Pertanyaan ini untuk mendapatkan alasan psikologis, mengapa ada kerinduan purba pada sejumlah besar manusia untuk memeluk agama. Kedua, mengapa agama melahirkan radikalisme. Pertanyaan ini menjadi sejenis pertanyaan repetitive benarkah kebaikan bisa melahirkan keburukan. Ketiga, bagaimana seharusnya sikap lembaga-lembaga pendidikan tempat gen radikalisme dipijahkan di otak generasi muda.  Topik-topik di atas akan dibahas dari sudut pandang Psikologi.

Mengapa Manusia Beragama

Setiap perilaku manusia -dalam sudut pandang psikologi- selalu memiliki alasan tertentu. Nyaris tidak pernah ada perilaku manusia yang berdiri sendiri tanpa satupun motif dibelakangnya. Bahkan, perilaku yang sepertinya tidak disadari, pun memiliki sejumlah alasan yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Demikian juga perilaku religius manusia, sudah barang tentu mengandung alasan alasan kejiwaan yang bisa didudah menggunakan pisau analisis Psikologi Agama.

Sebagian teori dalam Psikologi Agama mendasarkan pada pikiran Plato tentang eros. Eros adalah sebuah dorongan dasariah yang ada pada setiap insan untuk  mengatasi kondisi terbatas yang ada pada dirinya agar mencapai sebuah kondisi keterpenuhan. Alam baka, sebuah tempat darimana manusia berasal, dalam pikiran Plato, adalah simbul keberlimpahan. Sedang dunia fana, tempat dimana manusia kini berada, adalah manifestasi dari situasi keberkekurangan. Dalam skema kognisi semacam ini, eros muncul sebagai sebuah perilaku religius yang mendorong manusia untuk mengatasi keterbatasan fanawi untuk mencapai keberlimpahan batin bakawi. Lebih jelas lagi Plato mengatakan, eros religius adalah hasrat dasar manusia untuk dipertemukan dengan kesempurnaan yang Illahi dan dibebaskan dari hukum hukum fana yang menggelisahkan jiwanya (Dister: 1989)

Pikiran Plato di atas menggambarkan beberapa gejala jiwa yang kemudian dikonstruksi oleh para psikolog menjadi sejumlah teori. Gejala yang paling banyak dikonstruksi menjadi teori Psikologi adalah gejala ‘pikiran mistik’ pada manusia. Plato menyatakan konsep mistis ini dalam kata ‘Illahi’ dan dikotomi ‘fana-baka’. Beberapa paparan di bawah ini menjelaskan bagaimana ide Plato di dijabarkan menjadi teori psikologi.

Spranger (1882-1963) membagi tipologi kepribadian manusia menjadi enam, yaitu tipe teoritis, estetis, politis, ekonomis, sosial dan religius.  Masing masing tipe menunjukkan kekhasan kepribadian manusia. Ada manusia yang didorong oleh kebenaran, keindahan, kekuasaan, untung rugi, relasional dan nilai nilai keilahian. Manusia dengan tipe religius keseluruhan hidupnya dikuasai  oleh nilai nilai yang memuncak dalam nilai keillahian. Spranger menteorikan, alasan manusia beragama adalah ‘pikiran mistik’ untuk mencari nilai tertinggi karena didorong oleh kegelisahan hati dan ketidak-puasan akan nilai nilai yang fana. Menurutnya, Agama adalah resultan hasrat transenden untuk menyatu dengan Yang Tak Terbatas (Dister; 1989)

Abraham Maslow (1908-1970) menjabarkan  gejala ‘pikiran mistis’ pada manusia dalam konsep peak experiences. Menurutnya, tidak semua perilaku manusia dimotivasi oleh kebutuhan (need motivated), tetapi ada sejumlah perilaku yang digerakkan oleh hasrat untuk bertumbuh (growth motivated). Orang-orang yang sudah berada dalam growth motivated mudah mendapatkan pengalaman puncak –yang mistis- (peak experiences) di tiga bidang, yaitu  cinta, seni dan religiusitas. Jadi menurut Maslow, agama adalah salah satu gejala ‘pikiran mistis’ pada manusia, yang diakibatkan oleh sebuah pengalaman puncak dalam kehidupan religiusnya. Pada kondisi itu, individu (subjek) lenyap terserap dalam pengalaman misterius bersama objek yang dinikmatinya. Pada saat itu manusia mengalami pengalaman samuderawi (Ocean experience) yang zero konflik, tidak ada keterpisahan, tidak ada keterbatasan, tidak ada ketakutan, tidak ada kekecewaan. Sumber sumber psikologis yang diperoleh dari peak experiences tersebut yang menjadi kerinduan manusia untuk memeluk agama.

Sigmund Freud (1856-1939) menjabarkan gejala ‘pikiran mistis’ yang diintrodusir Plato di atas dengan teori yang disebut Narsisme Pertama.  Menurutnya, manusia memiliki dorongan untuk mengalami kembali pengalaman Narsisme Pertama yang didapatkan pada masa awal hidupnya sebagai bayi. Keseluruhan pengalaman hidup sebagai bayi adalah peak experiences dimana manusia belum memiliki kesadaran keterpisahan antara Id Ego dan Super Ego. Pada saat itu bayi belum mengalami diri sebagai ‘aku’ yang berbeda dengan dunia luar sebagai ‘non aku’. Tetapi karena persentuhan dengan dunia luar, maka kesadaran antara ‘aku’ dan ‘non aku’ keudian timbul. Pengalaman Narsisme Pertama ini, menurut Freud adalah sebuah pengalaman mendalam bagi setiap individu. Saat itu manusia mengalami sepenuhnya dambaan akan kesatuan, kepenuhan dan keutuhan. Narsisme Pertama ini, menurut Freud merupakan sumber psikologis mengapa manusia beragama. Yaitu untuk mengalami pengalaman mistik dalam kepenuhan, kesatuan dan keutuhan dengan realitas yang “Non Aku’.

Psikologi Behavioristik (Pavlov, B.F. Skinner),  sebagai salah satu mazhab yang memiliki pengaruh paling besar di dunia psikologi, behaviorisme kurang memberikan perhatian pada perilaku beragama. Dalam pandangan behavioristik, konsep amal dan dosa serta  surga dan neraka bisa menjadi alasan mengapa manusia beragama. Setidaknya konsep konsep itu akan membawa pemahaman bahwa jika manusia berbuat baik (dengan beragama) ia akan mendapatkan hadiah berupa hidup yang lebih baik (di surga) kelak. Sebaliknya jika ia tdak berbuat baik (tak beragama) maka kelak ia akan mendapatkan hukuman di neraka. Dari sini kepastian akan masa depan (setelah kematian) setidaknya terjawab, meski tidak eksperiential.

Dari beberapa teori besar tersebut, dapat disimpulkan beberapa point yang bisa menjawab pertanyaan mengapa manusia beragama. Pertama, ada kondisi inferior dalam diri manusia yang perlu ditutup dengan melakukan serangkaian perilaku religius dengan beragama. Kondisi inferior ini menjadi dorongan bagi mereka untuk mencari penyatuan dengan yang superior, yang “Non Aku” yang transenden, disebut Tuhan, Allah, Yahwe, God, Gusti, Yang Widi dan lain sebagainya. Kedua, Ada sebuah kerinduan yang purba dalam diri manusia untuk mengalami hal hal yang mistik, gaib, Ilahiah sebagai antithesis kehidupan yang wadag dan fana. Sebuah kerinduan untuk mengakses kembali sumber daya psikologis yang membawa manusia pada kondisi tanpa beban, tanpa masalah, tanpa jarak, tanpa ketakutan, tanpa jeda. Pengalaman itu merupakan sumber daya psikologis yang membuat manusia ayem, tentrem dan sejahtera sepenuhnya. Ketiga, ada  kebutuhan dalam diri manusia untuk memiliki keyakinan akan masa depan yang serba tidak jelas. Maka manusia mencari pedoman tentang segala kemungkinan akan apa yang terjadi (termasuk) setelah kematian.

Mengapa Sebagaian Manusia Beragama Menjadi Radikal

Dari beberapa teori psikologi di atas kita mengenal intensi baik yang menjadi alasan mengapa manusia beragama. Yaitu agar menyatu dengan realitas gaib/mistik yaitu Yang Maha Ada, agar mengalami pengalaman pengalaman puncak, agar mendapatkan kepastian akan masa datang.  Tetapi mengapa anomali radikalisme muncul? Benarkah kebaikan bisa melahirkan keburukan ?

Pandangan hipotetik penulis terhadap gejala pikiran radikal yang ada pada sebagian umat beragama saat ini, adalah terjadinya distorsi terhadap tujuan semula orang beragama. Individu yang mengalami gejala pikiran radikal, kemungkinan telah mereduksi tujuan tujuan mulia perilaku beragama kepada tujuan yang lebih rendah. Jika dibaca dari kacamata Maslow  pikiran pikiran radikal yang distruktif dari para ekstremis bisa jadi adalah proses reduksi growth motivated menjadi need motivated. Artinya, orang menjadi radikal karena sedang memenuhi lima kebutuhan yang levelnya dibawah growth motivated. Perlu diadakan penelitian yang melibatkan sejumlah subjek radikal, sejauhmana kebutuhan-kebutuhan mereka terpenuhi. Apakah mereka masih berkutat dalam lima kebutuhan dasar atau sudah berada dalam tingkat pertumbuhan.

 Agama agama besar hampir semua dilahirkan dalam lingkup budaya yang terbatas, seperti Arab, India, China. Ketika agama agama itu dibawa dalam percaturan sosial global tentu akan mengandung resiko gesekan budaya. Gesekan gesekan ini yang mempertajam perselisihan antara satu dengan yang lain sehingga timbul radikalisme. Agama yang tumbuh bersama  diwilayah yang sepi dari kompetensi multicultural akan lebih berresiko saling bergesekan. Oleh sebab itu kompetensi ini mesti ditumbuhkan melalui ajaran ajaran agama masing masing.

Induksi ketakutan yang berlebihan tentang masa depan yang belum jelas (setelah kematian) menimbulkan gejala ketakutan masal yang menyebabkan pemeluk agama lebih suka menjadi mayoritas dibanding menjadi minoritas. Maka ekspansi terus menerus untuk menjadikan orang lain memeluk agamanya akan terus dilakukan atas nama perasaan takut itu. Dalam sejarah kita mengenal Islamisasi, atau Kristenisasi, Hindunisasi, Budhanisasi yang berabad abad menjadi alasan bagi perseteruan antar umat beragama.

Ketaatan dalam hidup beragama banyak yang dihasilkan dengan cara menginduksi stress dan ketakutan akut, dan kemudian menawarkan solusi kepada pengikutnya. Cara ini terjadi pada beberapa tradisi agama. Cara ini menurut Sargant (Connoly; 2002) bisa dipakai untuk mendekondisikan dan merekondisikan ketaatan dalam beragama. Motede yang disebut hipnoid ini kurang lebih menggunakan dasar dasar ilmu hipnotis untuk mempengaruhi orang lain. Untuk mendekondisi maupun merekondisi ketaatan pengikut agama dengan hipnoid, menurut Sargant perlu lebih dulu dilakukan stress induction, pemunculan sejumlah emosi puncak, mendorong munculnya pola pola keyakinan dan perilaku baru dan kemudian memasang anchor agar perilaku baru tersebut bisa dinampakkan dalam kehidupan sehari hari. Metode ini persis seperti hypnosis yang sekarang banyak dipelajari di sekitar kita.  Celakanya prinsip kerja ini justru banyak dipakai oleh cult (sempalan-sempalan ajaran) untuk menghimpun kekuatan masa. Dari sana bibit radikalisme ditanamkan

John Schumaker (Collony: 2002) menyebutkan, praktek distorsi dalam agama sebagaian besar dilakukan dengan menggunakan induksi ketidaksadaran atau trance yang dikombinasikan dengan sugesti distorsi realitas (reality distorsing sugestion). Menurutnya, teknik induksi ini digunakan bersamaan dengan sesuatu yang diritualkan agar para penganut aliran tersebut lebih mudah dalam melakukan auto sugesti. Teknik ini memanfaatkan kapasitas otak manusia untuk melakukan disosiasi pikiran individu yang tengah mengalami trance. Dengan kemampuan mendisosiasikan pikiran ini, individu dapat meyakini sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pikirannya.

Subandi (2009) dalam bukunya Psikologi Dzikir menyebutkan, sejumlah partisipan penelitiannya ketika berdzikir mengalami transformasi kesadaran. Beberapa diantaranya mendapatkan pengalaman mendengar dan melihat sesuatu yang sesungguhnya tidak ada, atau dalam terminologi psikologi disebut halusinasi. Pengalaman ini didapatkan karena ada perubahan tingkat kesadaran pada diri partisipan tersebut. Individu yang melakukan meditasi, termasuk didalamnya adalah dzikir memiliki potensi untuk mengalami ASC (Alter States of Consciousness) yang bisa ditandai dengan berubahnya sensasi tubuh, perubahan emosi, pikiran, persepsi, perasaan tentang waktu, perasaan tentang diri, dan pemahaman tentnag realitas.

Ketika individu berada dalam kondisi ketakutan akut, atau dalam kondisi meditative, atau sedang melakukan ritual tertentu, individu mendapatkan potensi penurunan kesadaran. Jika dilihat dari perspektif teori kesadaran, maka transformasi itu akan bergerak dari level sadar ke level bawah sadar. Atau jika mau diterangkan dengan perangkat teknologi pengukur gelombang otak, individu akan berada pada level gelombang otak alfa atau tetha. Pada saat itu individu memiliki struktur kognisi yang empuk sehingga mudah dipengaruhi, mudah dibentuk sekehendak hati si pemimpin kelompok tersebut. Dari situasi semacam inilah kadang kadang fenomena radikalisme dipijahkan.

Bagaimana Sikap Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan mestinya memberikan bekal ketrampilan multicultural kepada anak didik yang berada dalam masyarakat yag beragam. Ketrampilan ini sangat penting, mengingat, bahwa semua agama membawa kultur darimana mereka berasal. Ketrampilan multicultural ini akan sangat penting untuk menjaga kebersamaan dalam kehidupan agama secara bersama sama.

Dahulu gereja katolik menganggap bahwa tidak ada keselamatan diluar gereja, kemudian ajaran itu direvisi bahwa terdapat keselamatan dimana mana. Hal ini adalah embrio ketrampilan multicultural yang perlu terus disemai pada anak anak muda Katolik sehingga dapat mengurangi gesekan terhadap pemeluk agama lain. Ajaran ajaran yang lain tentu memiliki bibit bibit pemahaman terhadap agala lain semacam ini.

Penting bagi lembaga pendidikan di Indonesia untuk terus menerus mengajarkan kepada anak didik sikap berkelimpahan agar menjauhkan mereka dari rasa berkekurangan. Rasa berkelimpahan ini akan mendorong perilaku memberi daripada meminta. Sementara ini kompetensi memberi dari anak anak kita masih sangat rendah. Hasil refleksi saya dalam mendidik mencapai kesimpulan bahwa ketika menemukan sebuah fenomena ketidak enakan saya cenderung menyalahkan pihak lain daripada memetanyakan kepada diri saya sendiri mengapa hal itu bisa terjadi dan dimana peran saya. Sikap ini adalah sikap meminta, bukan sikap memberi yang didorong oleh oleh rasa berkelimpahan.  Sayangnya kurikulum pendidikan kita lebih banyak dipengaruhi oleh behavioristik yang cenderung menghitung hukuman dan hadian sebagai latar belakang perilaku. Pewarnaan kurikulum dengan nilai nilai yan glebih humanistic, dalam pandangan saya bisa lebih menyalakan rohani anak didik menuju kehidupan yang lebih baik.

Buatlah sistem pendidikan yang menjauhi sikap menakut nakuti kepada anak didik. Di berbagai lembaga pendidikan, metode manakut nakuti anak didik masih banyak dipakai. Cara ini akan membentuk mereka menjadi penakut, dan kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

*) R Budi Sarwono, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

BAHAN BACAAN

Connoly, Peter (2002) Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta. LKiS

Dhavamony, Mariasusai (1995) Fenomenologi Agama, Yogyakarta. Kanisius

Dister N Syukur (1989) Psikologi Agama. Yogyakarta. Kanisius

Greetz, Clifoford (2017) Agama Jawa. Jakarta. Komunitas Bambu

Mubarok Achmad (2014) Psikologi Dakwah. Malang. Madani Press

Subandi (2009) Psikologi Dzikir. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Reynolds, Caroline (2005) Kesehatan Spiritual. Yogyakarta. Baca.

Tumanggor, Rusmin (2014) Ilmu Jiwa Agama. Jakarta. Kencana

Wulff D.M (1991) Psychologi of Religion. USA. John Wiley & Son

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent