Perempuan Saat Ini Masih Mengalami Beragam Bentuk Penindasan: Kekerasan, Diskriminasi, Dan Eksploitasi

Perempuan Saat Ini Masih Mengalami Beragam Bentuk Penindasan: Kekerasan, Diskriminasi, Dan Eksploitasi

Kesetaraan dalam hal ekonomi, politik dan sosial budaya selamanya tidak akan dapat dinikmati tanpa adanya peran perempuan. Akan tetapi, meski Hari Perempuan Internasional telah diperingati sejak seabad lalu, perempuan saat ini masih saja mengalami beragam bentuk penindasan: kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi. Perjuangan perempuan untuk meraih kehidupan
yang lebih baik belumlah mencapai kemenangan.

Demikian dikemukakan Dorlinco Iyowau dalam konferensi pers memperingati Hari Perempuan Internasional dan Kondisi Perempuan Papua yang diselenggarakan oleh Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk Papua (FRI-WP) di Jakarta belum lama ini seraya menambahkan, hari perempuan internasional merupakan momen bersejarah bagi
perjuangan kaum perempuan di seluruh dunia dalam hal ekonomi, politik dan sosial-budaya. Sejarah telah memastikan bahwa peran perempuan merupakan salah satu elemen penting dalam keseluruhan perjuangan manusia untuk
menjadikan hidupnya lebih mulia.

“Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Pokja perempuan Majelis Rakyat Papua dan International Center for Transitional Justice (ICTJ) Indonesia telah mendokumentasikan fakta kekerasan terhadap perempuan West Papua sepanjang tahun 1963 sampai 2009. Dari dokumen tersebut tercatat ada 138 kasus kekerasan negara dan 98 kasus
kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan negara berarti tiap bentuk kekerasan terhadap perempuan, baik itu fisik, seksual dan psikologis, yang dilakukan atau didukung oleh aparat keamanan dan aparat pemerintahan. Penelitian terbaru dari Papuan Womens Group (PWG) mencatat ada 60 perempuan dari 170 yang terlibat dalam penelitian pernah mengalami kekerasan, dan 48
di antaranya adalah korban kekerasan negara atau pelanggaran HAM,” ujar aktivis Aliansi Mahasiswa Papua ini.

Sementara itu, Erna dari Front Rakyat Indonesia untuk Papua menegaskan, tentara menjadi aparat negara yang paling banyak menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan West Papua, hal yang masuk akal mengingat luar biasa banyaknya operasi militer yang digelar di Papua, dimana yang sulit diterima oleh akal manusia yang sehat adalah, bagaimana tentara dan/atau polisi
Indonesia memperlakukan perempuan West Papua. Perempuan West Papua menderitakan kekerasan berupa pembunuhan (femicide), penghilangan, penembakan, percobaan pembunuhan, penahanan, penganiayaan, penyiksaan, penyiksaan seksual, pemerkosaan, percobaan perkosaan, perbudakan seksual, eksploitasi seksual, aborsi paksa, rasisme dan pengungsian paksa.

“Dalam ranah rumah tangga, perempuan West Papua juga kerap mengalami tindak kekerasan berupa poligami, menjadi korban perselingkuhan, penelantaran ekonomi, penganiayaan, kekerasan psikis, pemerkosaan dalam perkawinan, perkosaan anak, pembunuhan anak, kawin paksa, hingga tertular HIV/AIDS. Sepanjang 2016-2017, jumlah kekerasan rumah tangga bahkan mencapai angka 2000-an,” ujar Erna.

Sedangkan, Titin dari Front Rakyat Indonesia untuk Papua menyatakan, ditengah bentangan panjang sejarah bangsa West Papua dalam menentukan nasibnya sendiri, perempuan-perempuan West Papua berdiri sambil menderitakan bermacam penindasan. Angka-angka tersebut bukanlah sekadar bilangan belaka, ada perempuan-perempuan, yang tegak, tegar, berdiri, dipaksa menderita, berani, dan melawan. Angka-angka itu adalah perempuan-perempuan yang benar-benar hadir di dunia, di tanah West Papua, hadir dalam sejarah perjuangan bangsanya.

“Akar permasalahan di Papua adalah penjajahan, dan oleh karena itu pembebasan Perempuan Papua hanya bisa diraih dengan pemenuhan atas hak menentukan nasib sendiri (self-determination) bagi bangsa Papua. Sebab, perkembangan bangsa Papua tak bisa lebih maju lagi di bawah kolonialisasi, bahkan bangsa Papua terancam musnah karena kematian akibat pembunuhan dan
penyakit, serta pengusiran,” tegasnya.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent