Lembaga Survey Sudah Bermain Politik

Lembaga Survey Sudah Bermain Politik

Kalau kita merujuk ke Pemilu terakhir pemilih partai Islam tidak begitu banyak, bahkan ada lembaga survey atau banyak lembaga survey menyatakan suara partai Islam akan anjlok atau turun, hal ini patut dicurigai dan dipertanyakan lembaga survey mereka menggunakan metodologi apa atau cara apa, sebab saat ini lembaga survey sudah bermain politik.

Demikian dikemukakan Ubedilah Badrun,M.Si diacara yang diselenggarakan Center of Study for Indonesia Leadership (CSIL) Public Discussion Series bertema “ Quo Vadis Suara Politik Umat Islam pada Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019?” di Jakarta belum lama ini seraya menambahkan, kekuatan politik sekuler ditandai dengan memiliki modal finansial unlimited, memiliki modal sosial secara internasional yang sistemik dan hegemonik, media massa mainstream dan memiliki mesin politik partai yang relatif
kompak.

“Sementara itu, kekuatan politik Islam ditandai dengan modal finansial minim, modal sosial secara global seperti buih, tidak menguasai media massa dan tidak kompak,” ujar Dosen UNJ ini. Menurutnya, implikasi lemahnya kekuatan politik Islam yaitu sulit
melakukan konsolidasi, Partai Islam dikendalikan pemilik modal, Partai Islam dicitrakan buruk dan tokoh politik Islam dipinggirkan.

Suara ummat Islam di Pilkada 2018, ujar Ubedilah Badrun, ditandai dengan Partai Islam belum sepenuhnya mampu menangkap aspirasi ummat Islam, suara ummat Islam terbagi-bagi dalam 9 partai, antara suara ummat, suara partai, dan pemikiran Islam substantif belum satu garis dan pemikiran politik Islam perlu menjadi perdebatan publik secara demokratis.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent