Aksi Radikal Dipicu Kesenjangan Sosial dan Kebodohan

Aksi Radikal Dipicu Kesenjangan Sosial dan Kebodohan

Kesenjangan sosial akan dapat memicu aksi radikal, disamping banyak faktor lainnya yang juga menyebabkan tindakan yang
merugikan umat manusia tersebut.

Demikian dikemukakan Saeful Bachri Ansori dalam seminar nasional deradikalisasi terorisme bertema “Peran dunia pendidikan dalam memutus mata rantai radikalisme dan terorisme”, yang diselenggarakan oleh BEM Institut Agama Islam Imam Ghozali (IAIIG) Kecamatan Kesugihan Cilacap belum lama ini seraya menambahkan, munculnya kekosongan ideologi, dianggap anak muda atau
mahasiswa untuk mencari pengetahuan dari organisasi-organisasi Islam, salah satunya Hizbut Tahrir Indonesia (hti) yang sangat mudah masuk dalam kalangan kampus, dan mereka ingin mendirikan khilafah Islamiyah.

Bicara deradikalisasi banyak hal, ujarnya, pertama pasca reformasi tahun 1998 Pancasila sebagai ideologi sudah tidak menarik bagi anak muda, sehingga terjadi kekosongan, untung MPR RI kita cepat tanggap dan mengingatkan kembali akan pentingnya empat pilar kebangsaan.

“Kemiskinan dan ketidakadilan di Indonesia, sangat dirasakan oleh kalangan bawah, mereka akan berontak, Pemerintah kita juga belum sigap dalam menangani beberapa hal yang ada di Indonesia,” ujar anggota Komisi I DPR-RI ini seraya menegaskan, anak-anak muda ini harus ada pendamping dalam belajar kelompok atau diskusi untuk menangkal paham radikalisme.

“Ada banyak cara mencegah paham radikal, pertama sebelum terjadi kita bisa lakukan pendekatan awal sebelum peristiwa, kedua penanganan setelah peristiwa ,dimana selama ini ada pembiaran,”ujarnya.

Sementara itu, H. Aid Mustaqim, S.Ag, M.Ag, Penyuluh Kantor Kemenag Cilacap sebagai pembicara lainnya menyatakan, keharmonisan dan toleransi umat beragama bisa tumbuh berkembang dan dapat terus terpelihara melalui komunikasi dan kerjasama seluruh komponen terkait.

“Radikalisme dan Terorisme cara menangkalnya, dapat memahami agama dengan benar dan tuntas bersama orang yang benar-benar paham atau ahlinya yang memiliki kewenangan,”ujarnya.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent