Waspadai Aksi Lanjutan Kelompok ISIS di Indonesia

Waspadai Aksi Lanjutan Kelompok ISIS di Indonesia

Aksi teror bom bunuh diri di Kampung Melayu (26/5/2017) semakin jelas menunjukkan bahwa Indonesia adalah target dari gerakan kelompok radikal ISIS. Pelaku bom bunuh diri AS dan INS, dijelaskan oleh Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian, sebagai anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), sel kelompok radikal di Indonesia yang mendukung ISIS.

Hubungan JAD dan ISIS terjadi melalui perantara Bahrun Naim yang saat ini diduga berada di Raqqa Suriah. Hubungan erat Bahrun Naim dengan JAD dijelaskan oleh mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai bahwa Bahrun Naim merupakan anggota kelompok JAD sebelum berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Di Indonesia, JAD berafiliasi dengan terpidana terorisme, Aman Abdurrahman yang saat ini menjadi Napi di LP Nusakambangan.

Sebalum beraksi di Kampung Melayu, kelompok JAD sebelumnya melakukan aksi di Cicendo Bandung. Yayat Cahdiyat sebagai pelaku gagal menjalankan tugasnya Karena bom yang dibawa terlebih dulu meledak. Yayat yang sempat melarikan diri ke Kantor Kelurahan Arjuna akhirnya tewas ditembak oleh polisi.

JAD menjadi agresif melakukan aksi teror, terutama kepada polisi, setelah pemimpinnya Zaenal Anshori ditangkap. Aksi yang dilakukan sebagai balas dendam atas penangkapan tersebut antara lain penembakan polisi di Tuban dan pembacokan di Banyumas.

Faktor Pendorong

Ancaman terorisme kelompok ISIS di Indonesia bukan sekedar paranoia atau rekayasa. Menguatkan ISIS di Asia Tenggara sudah terlihat nyata. Aksi di Marawi Filipina menunjukkan bahwa kekuatan sel-sel kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS sudah cukup meresahkan.

Aksi kelompok ISIS di Filipina, dan tempat lain seperti di Inggris dan Mesir, tidak lepas dari semakin terdesaknya ISIS di Suriah dan Irak yang menjadi basis utama. Tekanan pada basis utama membuat ISIS harus membagi kekuatannya di tempat lain supaya tetap eksis. Hal ini dipertegas dengan adanya perintah dari petinggi ISIS kepada para pengikutnya untuk melakukan aksi di wilayah asalnya masing-masing.

Faktor pendorong berikutnya adalah kemajuan teknologi. Saat ini ISIS termasuk berhasil dalam menyebarkan pengaruh ideologi melalui bantuan teknologi internet. Beberapa kasus aksi teror di Indonesia seperti yang terjadi di Gereja Santo Yosep Medan (28/08/2016) dan penyerangan kepada polisi di Tangerang (20/10/2016), adalah salah satu bukti doktrinasi ISIS berhasil, bahkan mampu menggerakan seseorang untuk melakukan aksi individual. Tentu saja kemajuan teknologi juga akan dimanfaatkan oleh kelompok ISIS untuk proses perekrutan, kaderisasi, pelatihan, bahkan untuk pengendalian aksi teror.

Faktor ketiga adalah adanya sel tidur kelompok radikal di Indonesia. Sel tidur ini terdiri dari mantan napi terorisme, WNI simpatisan ISIS yang pulang dari Suriah, dan simpatisan lainnya. BNPT pada acara Serasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Penggiat Dunia Maya, di Hotel Alana Yogyakarta, (2/3/2017) menyatakan bahwa saat ini terdapat 250 napi terorisme yang tersebar di 77 lapas dan 1 rutan. Mantan napi terorisme 600 orang, namun yang diketahui keberadaannya baru 184 orang, 416 mantan napi terorisme tidak diketahui keberadaannya.

Contoh napi yang setelah bebas kembali melakukan teror adalah pelau teror bom Cicendo Bandung, Yayat Cahdiyat, yang divonis tiga tahun penjara. Setelah bebas Yayat bergabung dengan JAD. Juhanda, pelaku bom di Gereja Oikumene Samarinda (13/11/2016) juga merupakan mantan napi terorisme. Juhanda pernah menjalani hukuman pidana 3,5 tahun dan dibebaskan pada 2014. Mantan napi terorisme ini, jika tidak mendapatkan tempat normal di masyarakat maka akan kembali kepada kelompoknya dan menjadi sel-sel tidur yang menunggu momentum untuk beraksi kembali.

Peran Polri dan Masyarakat

Upaya Polri untuk mencegah aksi teror sudah terus dilakukan. Rangkaian penangkapan kepada terduga anggota kelompok teroris menjadi upaya pencegahan agar aksi teror tidak terjadi. Meskipun demikian tetap ada celah kerawanan yang dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk bersembunyi, menyiapkan, dan menjalankan aksinya. Celah tersebut adalah dengan memanfaatkan masyarakat sebagai tempat persembunyian.

Polri tentu sudah berupaya keras melakukan deteksi keberadaan dan aktifitas orang yang berpotensi melakukan aksi teror. Deteksi yang dilakukan Polri bisa melalui pemantauan arus komunikasi dan arus transaksi keuangan. Kemajuan teknologi dan kerjasama antar instansi (misalnya dengan BIN dan PPATK) bisa dimanfaatkan oleh intelijen Polri untuk mendeteksi gerakan-gerakan kelompok radikal yang mengarah kepada aksi teror.

Tantangan besar akan muncul jika kelompok tersebut menggunakan cara-cara konvensional, tidak menggunakan alat komunikasi, melakukan transaksi keuangan dengan kurir, serta berada dan berperilaku melebur dengan masyarakat biasa. Jika hal ini yang terjadi maka peran masyarakat harus dioptimalkan, terutama dengan mengaktifkan dan meningkatkan radar sosial. Anomali sosial dengan mudah akan terbaca oleh masyarakat jika masyarakat mau peduli dengan lingkungan sekitar.

Namun jika masyarakat justru mematikan radar sosialnya, dan mengaktifkan “senjatanya untuk bersikap intoleran terhadap orang lain yang berbeda”, maka masyarakat secara tidak langsung sudah membangun perlindungan ideal bagi kelompok teroris yang akhirnya tinggal menunggu momentum tepat untuk beraksi. Tidak heran jika terjadi aksi teror, keluarga dan masyarakat yang pernah hidup dengan pelaku akan terkaget-kaget, tidak percaya bahwa pelaku yang “dianggap baik”ternyata menjadi pelaku aksi teror.

Ancaman Serius

Kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia adalah ancaman serius. Kelompok ini menjadi bagian dari gerakan transnasional yang aksi-aksinya sangat keji, seperti bom bunuh diri, demi mewujudkan kepentingannya.

Beberapa aksi teror yang terjadi di Indonesia sudah diakui oleh ISIS, termasuk aksi terakhir bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa ada kepentingan ISIS di Indonesia.

Indonesia adalah tempat yang strategis bagi ISIS. Jika berhasil melakukan aksinya, eksistensi ISIS akan lebih terbukti. Hal ini juga dipermudah dengan adanya kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang eksis dan menciptakan polarisasi identitas di masyarakat. Masyarakat yang terbelah memberi jalan lebar kepada kelompok teroris untuk masuk dengan leluasa.

Ancaman serius dari ISIS di Indonesia akan dideteksi dan dicegah oleh Polri, namun tentu saja Polri tidak bisa bekerja sendirian. Peran masyarakat sangat penting. Celah kerawanan sebagai pintu masuk bagi kelompok teror untuk bersembunyi, kaderirasi dan menyiapkan aksi, harus ditutup. Peran masyarakat untuk menutup celak kerawanan masuknya kelompok teroris bisa dilakukan jika masyarakat bersatu padu dalam kerangka NKRI, Pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika.

*) STANISLAUS RIYANTA, pengamat intelijen dan terorisme, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent