Bom Kampung Melayu, Aksi Balas Dendam Kelompok Radikal

Bom Kampung Melayu, Aksi Balas Dendam Kelompok Radikal

Dua buah bom meledak di Kampung Melayu Rabu (24/05) sekitar pukul 21:00 WIB.  Tiga orang Polisi yang sedang bertugas gugur menjadi korban aksi keji tersebut. Tiga anggota kepolisian tersebut adalah Bripda Taufan Tsunami, Bripda Imam Gilang, Bripda Ridho Setyawan. Dua jenazah lain yang ditemukan diduga adalah pelaku bom bunuh diri.

Bom bunuh diri yang dilakukan pada saat Kapolri Jendral Pol  Tito Karnavian sedang mengadakan kunjungan ke Arab Saudi tersebut menjadikan polisi sebagai target utama. Pilihan lokasi dan obyek terminal Kampung Melayu bukan menjadi prioritas dari kelompok tersebut, prioritas pertama adalah adanya target, yaitu polisi. Pelaku yang lebih dari satu orang menunjukkan bahwa aksi tersebut dilakukan secara teroganisir, bukan lone wolf terrorist.

Aksi bom bunuh diri ini diduga kuat dilakukan oleh kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS. Polisi yang dianggap sebagai thaghut oleh kelompok radikal ISIS, bukan kali ini saja menjadi korban aksi teror. Aksi-aksi sebelumnya seperti yang terjadi di Thamrin, Tangerang, dan Surakarta menunjukkan bahwa kelompok radikal tersebut memang menjadikan polisi sebagai musuh utama yang harus diperangi oleh kelompok radikal transnasional ISIS.

Kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah), salah satu sel kelompok radikal di Indonesia yang berafiliasi dari ISIS, diduga menjadi operator dari aksi ini. Sebelumnya JAD juga melakukan aksi di Cicendo sebagai aksi protes atas penangkapan terduga pelaku terror di Jawa Timur. JAD melakukan balas dendam dan ingin menunjukkan eksistensinya dengan melakukan bom bunuh diri yang diarahkan kepada petugas Polri.

Momentum Global Picu Aksi Lokal

Momentum yang digunakan untuk melaksanakan aksi teror ini  diduga dipicu oleh aksi teror kelompok ISIS di Manchaster Inggris (23/5). Selain itu aksi teror bom bunuh diri dikatalisasi oleh aksi kelompok ISIS di Marawi Filipina. Dengan adanya aksi di Kampung Melayu Jakarta, ISIS menyampaikan pesan bahwa keberadaan mereka di Asia Tenggara cukup serius.

Sejak kelompok ISIS terdesak di Irak dan Suriah, ISIS harus mulai membangun basis kekuatan di tempat lain. Teori balon terjadi, penekanan di Irak dan Suriah maka akan terjadi pengembangan di tempat lain. Dalam hal ini diprediksi ISIS akan membangun basisnya di Afganistan dan Asia Tenggara. Filipina dan Indonesia adalah pilihan bagi kelompok ISIS sebagai basis di Asia Tenggara. Kalompok Abu Sayaf di Mindanau Filipina dan beberapa kelompok radikal di Indonesia yang sudah menyatakan mendukung ISIS akan menjadi basis kekuatan bagi pengembangan ISIS di Asia Tenggara.

Aksi-aksi teror lainnya bukan mustahil dalam waktu dekat akan menyusul terjadi di Indonesia. Arus balik simpatisan ISIS dari Irak dan Suriah yang sudah terjadi akan membuat sel-sel kompok radikal semakin banyak di Indonesia. Simpatisan ISIS tersebut tentu sudah mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan doktrin ideologi yang kuat. Para simpatisan ISIS tersebut akan membuat sel tidur yang sedang menunggu momentum untuk beraksi.

Kekuatan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah kelompok radikal lokal dan mantan narapidana kasus terorisme. Jika kelompok-kelompok tersebut bersatu dan ada momentum yang mendukung maka aksi teror akan dilakukan.

Celah Kerawanan Melebar

ISIS sudah memberikan sinyal cukup kuat, bahwa mereka akan eksis di Indonesia. Indonesia harus ekstra waspada. Banyak titik rawan yang menjadi celah untuk memuluskan aksi teror. Kegaduhan politik dan polarisasi identitas yang terjadi saat ini menjadi celah bagi kelompok radikal untuk menjalankan aksinya.

Aksi bom Kampung Melayu menggunakan cara-cara lama yang pernah digunakan kelompok radikal, namun tetap saja tidak bisa diantisipasi atau dicegah. Kesuksesan aksi tersebut terjadi karena celah kerawanan yang semakin membesar sehingga memudahkan aksi terjadi. Membesarnya celah kerawanan di masyarakat karena adanya polarisasi dengan isu SARA. Polarisasi inilah  yang membuat kewasdaan terhadap ancaman terorisme menurun.

Alih-alih menjadikan kelompok radikal sebagai musuh bersama, beberapa pihak justru menganggap aksi teror adalah pengalihan isu dan rekayasa.  Kelompok radikal yang seharusnya menjadi musuh bersama untuk dilawan, oleh sebagian pihak justru dikaburkan eksistensinya.

Aksi teror tidak bisa hanya dihadapi oleh Polri, peran masyarakat sangat diperlukan. Kelompok radikal akan bersembunyi di tengah-tengah masyarakat, akan sangat sulit membedakan masyarakat biasa dengan kelompok radikal.  Masyarakat harus peduli terhadap interaksi sosial di lingkungannya. Dengan kekuatan sosial yang peduli dan waspada terhadap kelompok radikal maka masyarakat sudah berperan penting dalam menutup celah masuknya kelompok radikal.

Jika masyarakat tidak mau peduli terhadap ancaman terorisme, bahkan menganggap bahwa aksi teror adalah rekayasa dan pengalihan isu, maka sebenarnya masyarakat sedang menciptakan celah kerawanan lebih besar bagi masuknya kelompok radikal. Ancaman ISIS terhadap Indonesia semakin nyata dan kuat, dan hal itu harus dilawan, bukan malah dikaburkan dan dianggap sebagai rekayasa.

*) STANISLAUS RIYANTA, pengamat intelijen dan terorisme, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent