Jaringan Teror Semakin Meluas, Apa Tindakan Kita?

Jaringan Teror Semakin Meluas, Apa Tindakan Kita?

Amerika Serikat (AS) mengkhawatirkan pertumbuhan jaringan militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di negara-negara Asia Tenggara. ISIS berusaha bergabung ke dalam militan-militan lokal yang sudah berdiri di Asia Tenggara.

Selama ini ISIS memiliki sejarah ‘bermitra’ dengan sejumlah militan di dunia, termasuk di Mesir, Libya dan Nigeria. Koordinator Pemberantasan Teorisme pada Departemen Luar Negeri AS, Justin Siberell, menyebut ISIS semakin ingin memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara.

Siberell juga menekankan, militan-militan dari Asia Tenggara yang bertempur untuk ISIS di Irak dan Suriah dikerahkan dalam unit khusus bernama ‘Katibah Nusantara’. Keberadaan mereka, sebut Siberell, bisa memberi ancaman besar jika mereka nantinya pulang ke negara masing-masing.

Pernyataan ini disampaikan Siberell akhir Agustus 2016 usai mengunjungi Bali, awal bulan ini, untuk menghadiri rapat khusus mencegah pergerakan teroris lintas perbatasan. Dari Bali, Siberell juga berkunjung ke Jakarta, Malaysia dan Singapura sebelum pulang kembali ke Washington, AS.

Sejauh ini, baru ada serangan-serangan kecil serta rencana serangan teror melibatkan jaringan ISIS yang digagalkan di kawasan Asia Tenggara. Para pengamat mengkhawatirkan jaringan ISIS semakin efektif di kawasan tersebut.

Kekuatan dan Kelemahan

Dalam perkembangan terkininya, ISIS di Irak hanya menguasai Kota Mosul, setelah Kota Ramadi dan Falujah direbut kembali oleh tentara Irak dibantu koalisi. Sedangkan, di Suriah, hanya Kota Raqqa dan Al-Bab yang dikuasainya, setelah ISIS gagal mempertahankan Kota Manbij dan Jarablus.

Tidak hanya itu saja, banyak petinggi ISIS yang telah tewas antara lain Abu Omar al-Shishani (orang nomor dua dalam struktur ISIS), Abu Muhammad al-Adnani alias Taha Sobhi Falaha (orang nomor tiga dakan struktur ISIS), Haji Hamzah (pembantu Al Baghdadi di Provinsi Al-Anbar, Irak Barat) dan Abbu Sayyaf (Menteri ISIS urusan perminyakan).

Walaupun mengalami sejumlah kekalahan, ISIS tetap mempunyai kekuatan. Berdasarkan penyelidikan PBB, militan radikal Islamic State fo Iraq and Syria (ISIS) menjadikan gas mustard sebagai senjata. Laporan dari Mekanisme Investigasi Gabungan (JIM) menemukan kesimpulan bahwa rezim Suriah menjatuhkan senjata kimia di dua desa yang ada di Provinsi Idlib, yakni di Talmenes pada 21 April 2014 dan di Sarmin pada 16 Maret 2015. Ada tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tengah membuat senjata kimia. Bahkan sejumlah laporan menyebut ISIS telah menggunakan senjata kimia itu di Irak dan Suriah.

ISIS melancarkan serangan gas mematikan terhadap tentara Suriah di dekat kota Deir Ezzor. Sedangkan 9 Maret lalu, serangan gas ISIS melanda kota Taza, Irak. Serangan itu menewaskan 3 anak-anak dan melukai lebih dari 1.500 orang, dengan jenis luka bervariasi mulai dari luka bakar, luka ruam hingga gangguan pernapasan.

Kepala Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) Ahmet Uzumcu mengatakan, tim pencari fakta telah menemukan sejumlah bukti adanya penggunaan sulfur mustard atau gas mustard dalam serangan ISIS di kedua negara. Gas mustard merupakan senjata kimia berbahaya yang menyebabkan luka-luka pada kulit dan saluran pernapasan.

Pada Februari 2016, Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) John Brennan menuturkan kepada media setempat CBS News, bahwa anggota ISIS mempunyai kemampuan untuk membuat sejumlah kecil klorin yang beracun, dan gas mustard.

Kekuatan jaringan teror semakin membahayakan karena kelompok ini menggunakan jalur siber untuk direkrut dan merekrut, mengakses materi-materi pelatihan hingga merencanakan aksi.
Dunia siber telah menjadi domain baru gerakan teroris, sehingga pemetaan jaringan teroris tidak selalu harus berkaitan dengan kelompok besar seperti ISIS, Al Qaeda, namun ada juga kelompok dan individu yang sama-sama radikal dan berbahaya yang tercipta hanya melalui interaksi di media sosial.

Modus kegiatan teroris di dunia siber menjadi kian kompleks. ISIS dengan efektif menggunakan media sosial untuk merekrut anak-anak muda. Untuk meningkatkan kemampuan teknis hasil rekrutan itu juga dilakukan pelatihan lewat media sosial. Mereka yang berangkat ke Suriah dan Irak untuk perang kemudian pulang untuk melakukan gerakan yang sama.

Jaringan Meluas

Kekhawatiran Koordinator Pemberantasan Teorisme pada Departemen Luar Negeri AS, Justin Siberell kemungkinan ada benarnya. Kekhawatiran tersebut ada indikasinya yaitu buronan militan ISIS Malaysia diyakini bersembunyi di Filipina selatan dan berencana untuk membentuk sebuah faksi resmi ISIS di Asia Tenggara. Fraksi ISIS di kawasan ini juga berencana untuk menyatukan sel-sel teror yang berbeda di Malaysia, Indonesia dan Filipina. Ini akan mencakup Abu Sayyaf Group (ASG) dan kelompok-kelompok teror lain di wilayah ini.

Menurut Kepala Divisi Kontraterorisme Malaysia Datuk Ayob Khan Mydin Pitchay kepada Strait Times, dirinya khawatir atas rencana kelompok militan Malaysia membentuk jaringan teroris ISIS di Asia Tenggara yaitu Mahmud Ahmand, mantan dosen di Universitas Malaya yang juga dikenal sebagai Abu Handzalah, aktif berlatih dengan ASG serta mengambil bagian dalam operasi teror di Filipina selatan, Mohd Najib Husen, pemilik kedai kelontong, dan Muhammad Joraimee Awang Raimee yang merupakan mantan mantan karyawan Selayang Municipal Council. Tiga orang ini berharap dapat menggabungkan sejumlah kelompok militan di Asia Tenggara, seperti Abu Sayyaf dan Jemaah Islamiyah, menjadi satu kesatuan di bawah naungan Negara Islam.

Sejak tahun 2000, telah terjadi peningkatan lima kali lipat dalam jumlah orang yang dibunuh oleh terorisme. Meskipun ada sedikit penurunan dari tahun 2007 dan seterusnya, jumlahnya kembali melonjak sejak dimulainya perang saudara di Suriah.

Sementara, ancaman terorisme di Indonesia sebagai dampak atau ekses dari adanya tekanan global dan tekanan dalam negeri. Tekanan global diwarnai adanya konflik ide politik global yang dipicu oleh strategi militer Amerika Serikat untuk memperkuat ekonomi politik mereka ke depan melalui isu ”Rebalancing Asia Pasific” serta dinamika internal dalam bentuk radikalisme Agama di Indonesia termasuk adanya eskalasi aksi terorisme akibat eksistensi dukungan WNI yang menjadi simpatisan ISIS, keberadaan kelompok militan atau jaringan pelaku atau mantan pelaku teror, masih kuatnya dukungan dana jihad yang ditransfer berbagai kalangan yang sejauh ini diidentifikasi berasal dari Turki, Australia dan beberapa negara di Timur Tengah termasuk adanya arus imigran gelap yang masuk ke wilayah NKRI.

Berdasarkan catatan Global Affairs Foreign Terrorist Fighter, Indonesia termasuk negara yang menjadi pensuplai anggota ISIS yang sampai Januari 2016 tercatat sebanyak 300 orang. Sementara itu negara paling banyak warganya yang bergabung dalam ISIS antara lain Tunisia (6000 orang), Saudi Arabia (2.275 orang) Yordania (2.000 orang), Rusia (1.700 orang), Perancis (1550 orang), Turki (1400 orang), dan Marokko (1200 orang). Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah RI dari berbagi sumber tercatat sebanyak 500 orang.

Dalam pertemuan Regional Risk Assessment on Terrorism Financing 2016 South East Asia and Australia di Bali, disebutkan Indonesia masuk dalam kategori sangat terancam. Saat ini, ada 568 orang Indonesia yang pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Sebanyak 183 orang diantaranya telah kembali. Angka ini adalah tertinggi dibandingkan Malaysia dengan 73 orang dan Australia 110 orang yang telah berangkat ke Suriah dan Irak. Disamping itu, terdeteksi ada 11 kelompok teror yang aktif di Indonesia.

Apa Tindakan Kita?

Berdasarkan teori ancaman yang dikembangkan Llyota dan Lloyld yang dirumuskan T=IxCxC, maka untuk mengagalkan atau meminimalisir ancaman maka dihilangkan intention (I) atau dilumpuhkan capability (C) atau diminimalisir pemicunya yang ditunjukkan dalam circuumstances (C).
Mengurangi niat atau intention kelompok teror sangat tidak mungkin, karena kita harus memiliki “orang dalam” dalam kubu kelompok teror, sehingga rencana atau niat mereka ke depan dapat diketahui lebih dini.

Untuk melumpuhkan capability (kemampuan) kelompok teror, masih sangat mungkin dilakukan dengan membentuk gugus tugas menangani terorisme di dunia siber, perlunya dibentuk pengadilan khusus atau mempersiapkan hakim-hakim khusus dalam persidangan teroris, melibatkan unsur militer dalam penanggulangan teroris, memberikan kewenangan menangkap oleh BIN, mencabut status kewarganegaraan WNI dan keluarga besarnya yang tergabung dalam kelompok teror dll.

Kemungkinan yang paling dapat dilakukan adalah meminimalisir pemicu munculnya kelompok teror atau circuumstancesnya dengan tindakan mengembangkan/memulihkan budaya silaturahmi dan siskamling, mengembangkan pendidikan multikultur untuk mencegah pemahaman sempit dan intoleran, kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi yang dikeluarkan jangan sampai “merugikan” kelompok tertentu terutama kelompok rentan dan radikal serta last but not least negara atau pemerintah harus hadir ditengah masyarakat dengan memberikan keteladanan dan menumbuhkan kepercayaan artinya tidak elok ditengah ekonomi masyarakat yang masih bersahaja, mereka yang diberikan amanah di legislatif, eksekutif dan yudikatif menyalahgunakannya.

*) Toni Ervianto, alumni pasca sarjana Universitas Indonesia (UI)>

Print Friendly, PDF & Email

Share This:

jurnalintelijen

Subscribe

verba volant scripta manent